
Jensen Huang memprediksi triliunan dolar untuk infrastruktur AI masih harus dibangun. (Fortune)
JawaPos.com — Gelombang investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI) terus melonjak seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk melatih dan menjalankan sistem AI generatif. CEO Nvidia Jensen Huang menilai perlombaan membangun pusat data dan infrastruktur komputasi berskala raksasa yang kini dilakukan perusahaan teknologi dunia baru berada pada tahap awal dari transformasi ekonomi digital yang jauh lebih besar.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi seperti Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft telah menggelontorkan belanja modal besar untuk memperluas infrastruktur AI. Total investasinya diperkirakan mencapai sekitar 700 miliar dolar AS atau sekitar Rp11.816 triliun (dengan kurs Rp16.880 per dolar AS), angka yang bahkan melampaui produk domestik bruto sejumlah negara dan mencerminkan besarnya taruhan industri teknologi dalam membangun fondasi ekonomi berbasis AI.
Dilansir dari Fortune, Kamis (12/3/2026), Huang menegaskan bahwa angka tersebut bukanlah puncak investasi. Menurutnya, pembangunan infrastruktur AI global masih berada pada fase awal dan berpotensi berkembang jauh lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.
Dalam tulisan di blog resmi Nvidia, Huang menegaskan bahwa skala investasi infrastruktur AI ke depan akan jauh melampaui angka yang sudah dikeluarkan saat ini. “Kami baru saja memulai pembangunan ini. Kami baru menginvestasikan beberapa ratus miliar dolar dan masih ada triliunan dolar infrastruktur yang perlu dibangun,” tulisnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan besar dalam cara industri teknologi memandang AI. Jika sebelumnya kecerdasan buatan diposisikan sebagai perangkat lunak, kini teknologi tersebut berkembang menjadi sistem infrastruktur global yang membutuhkan pusat data, jaringan komputasi, serta pasokan energi dalam skala besar.
Proyeksi lembaga konsultan global McKinsey memperkuat gambaran tersebut. Perusahaan riset itu memperkirakan investasi pusat data AI secara kumulatif dapat mencapai 6,7 triliun dolar AS di seluruh dunia hingga 2030 guna memenuhi lonjakan permintaan komputasi.
Dampaknya bahkan mulai terlihat pada perekonomian. Ekonom Harvard Jason Furman mencatat bahwa tanpa ekspansi pusat data, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada paruh pertama 2025 kemungkinan hanya mencapai sekitar 0,1 persen. Sementara itu, analis strategi pasar global JPMorgan Chase Stephanie Aliaga menilai belanja modal terkait AI menyumbang sekitar 1,1 persen terhadap pertumbuhan produk domestik bruto. Dia menyebut investasi tersebut telah “melampaui konsumsi masyarakat AS sebagai mesin ekspansi ekonomi.”
Di pusat perkembangan ini, Nvidia memainkan peran krusial. Unit pemrosesan grafis (GPU) perusahaan tersebut menjadi komponen utama dalam sistem komputasi AI berskala besar. Infrastruktur ini kini dibangun di berbagai wilayah Amerika Serikat, terutama di negara bagian Virginia, dengan proyek ekspansi juga direncanakan di Georgia dan Pennsylvania.
Menurut Huang, pembangunan infrastruktur AI juga memicu lonjakan permintaan tenaga kerja teknis. “Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mendukung pembangunan ini sangat besar,” tulisnya. Dia menambahkan, “Pabrik AI membutuhkan teknisi listrik, tukang ledeng, pekerja pipa, pekerja baja, teknisi jaringan, dan operator.”
Namun sejumlah analis mengingatkan bahwa banyak pekerjaan yang tercipta dari pembangunan pusat data bersifat sementara. Penelitian Brookings Institution menunjukkan sebagian besar pekerjaan konstruksi hanya berlangsung selama fase pembangunan fasilitas.
Di sisi lain, perkembangan AI juga memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan kantoran. Penelitian perusahaan AI Anthropic menunjukkan teknologi ini secara teoritis sudah mampu menjalankan banyak tugas di bidang pemrograman, hukum, hingga bisnis dan keuangan. Bahkan kepala divisi AI Microsoft, Mustafa Suleyman, memperkirakan sebagian pekerjaan kantoran dapat terotomatisasi dalam waktu sekitar 18 bulan.
Meski demikian, Huang memandang AI sebagai alat yang dapat memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Dia mencontohkan sektor kesehatan: “Tujuan seorang radiolog adalah merawat pasien. Ketika AI mengambil alih pekerjaan rutin, radiolog dapat fokus pada penilaian, komunikasi, dan perawatan. Rumah sakit menjadi lebih produktif. Mereka melayani lebih banyak pasien dan mempekerjakan lebih banyak orang.”
Dengan kebutuhan investasi yang diproyeksikan mencapai triliunan dolar, pembangunan infrastruktur AI kini menjadi salah satu perlombaan teknologi terbesar di dunia—dan tahap yang telah berjalan saat ini, menurut Jensen Huang, baru permulaan.
***
