
Serangan udara Israel menyerang infrastruktur energi Iran. (Al-Jazeera)
JawaPos.com-Anggota Komisi IX DPR RI, Vita Ervina, mendesak pemerintah segera mengambil langkah cepat, terkoordinasi, dan transparan dalam menangani kasus hilangnya tiga anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) di Selat Hormuz.
Insiden tersebut terjadi setelah kapal tugboat Musaffah 2 dilaporkan meledak pada Jumat (6/3). Hingga kini, tiga ABK asal Indonesia masih dalam proses pencarian.
Vita menilai konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya setelah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, menimbulkan risiko serius bagi keselamatan pekerja migran Indonesia yang bekerja di sektor maritim.
Ketegangan tersebut bahkan berdampak pada penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
“Keselamatan WNI, khususnya para pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai ABK, harus menjadi prioritas utama negara. Pemerintah harus memastikan proses pencarian dilakukan secara maksimal serta memberikan pendampingan penuh kepada keluarga korban,” kata Vita Ervina kepada wartawan, Selasa (10/3).
Ia menegaskan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pekerja migran Indonesia yang bekerja di wilayah dengan risiko konflik tinggi membutuhkan sistem perlindungan yang lebih kuat.
Perlindungan tersebut, lanjutnya, harus mencakup proses penempatan, pemantauan kondisi kerja, hingga mitigasi risiko bagi pekerja yang ditempatkan di kawasan rawan konflik.
Legislator Fraksi PDI Perjuangan itu juga meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), serta lembaga terkait untuk meningkatkan koordinasi dengan otoritas negara setempat maupun perusahaan pelayaran guna memastikan proses pencarian berjalan optimal.
“Negara harus hadir secara nyata. Koordinasi lintas kementerian dan diplomasi dengan otoritas setempat harus dilakukan secara intensif agar pencarian dapat segera menemukan titik terang,” tegasnya.
Vita memastikan DPR akan terus memantau perkembangan kasus tersebut sebagai bagian dari fungsi pengawasan terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia di luar negeri.
Lebih lanjut, ia juga mendorong pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlindungan dan penempatan pekerja migran Indonesia di sektor maritim, khususnya pada jalur pelayaran internasional yang memiliki tingkat risiko tinggi akibat konflik geopolitik.
“Peristiwa ini tidak boleh dianggap sebagai insiden biasa. Pemerintah perlu memperkuat sistem mitigasi risiko dan perlindungan bagi pekerja migran Indonesia agar keselamatan mereka lebih terjamin di tengah dinamika geopolitik global yang tidak menentu,” papar dia. (*)

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
