Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan putrinya Kim Ju Ae, tengah, menyaksikan pertunjukan udara selama acara untuk merayakan ulang tahun ke-80 angkatan udara pada November 2025. [KCNA via Reuters]
JawaPos.com - Wacana mengenai Kim Ju Ae sebagai calon penerus Kim Jong Un tak hanya memantik spekulasi politik, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar soal sikap elite militer Korea Utara.
Di negara dengan struktur kekuasaan yang sangat bertumpu pada kekuatan angkatan bersenjata, restu para jenderal menjadi faktor krusial dalam setiap transisi kepemimpinan.
Badan intelijen Korea Selatan (NIS) sebelumnya menyebut Kim Ju Ae telah memasuki tahap 'pewaris resmi' dengan penguatan peran dalam sejumlah agenda kenegaraan. Namun, di balik simbol dan protokol, tantangan sesungguhnya diyakini berada di lingkar dalam militer.
Angkatan Bersenjata Rakyat Korea (KPA) selama ini menjadi pilar utama rezim. Sejak era Kim Il Sung hingga Kim Jong Un, dukungan militer memastikan stabilitas kekuasaan tetap terjaga.
Struktur komando KPA juga didominasi jenderal senior laki-laki yang tumbuh dalam budaya politik patriarkal dan hierarkis.
Dalam konteks tersebut, muncul pertanyaan: apakah elite militer siap menerima pemimpin perempuan?
Melansir outlet media lokal, secara historis, suksesi di Korea Utara selalu diwariskan dari ayah ke anak laki-laki. Tidak ada preseden kepemimpinan perempuan dalam garis utama dinasti Kim.
Jika Kim Ju Ae benar-benar diproyeksikan menjadi penerus, ia berpotensi menghadapi resistensi diam-diam dari kelompok militer yang selama ini menjadi penentu keseimbangan kekuasaan.
Pengamat menilai, untuk mengamankan dukungan, kemungkinan akan ada strategi konsolidasi sejak dini, mulai dari memperkuat citra publiknya di acara militer, menempatkannya dalam simbol-simbol loyalitas tentara, hingga membangun jejaring dengan elite partai dan militer.
Sejauh ini, kemunculan Kim Ju Ae di peringatan militer dan acara strategis negara dinilai sebagai bagian dari proses legitimasi bertahap. Kehadirannya bukan sekadar simbol keluarga pemimpin, melainkan sinyal bahwa ia mulai diperkenalkan kepada struktur kekuasaan utama negara.
Namun, dinamika internal Korea Utara sulit dipastikan karena minimnya informasi terbuka. Dukungan militer terhadap suksesi perempuan akan sangat menentukan stabilitas politik jangka panjang, terutama di tengah tekanan sanksi internasional dan ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea.
Jika elite militer memberikan dukungan penuh, maka Kim Ju Ae berpeluang mencatat sejarah sebagai pemimpin perempuan pertama Korea Utara.
Sebaliknya, tanpa konsolidasi kuat di tubuh angkatan bersenjata, proses transisi kekuasaan berpotensi menghadapi tantangan serius di balik layar kekuasaan Pyongyang.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Alaves vs Osasuna di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang di Mendizorrotza
Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Parma vs Monza di Liga Italia: Duel Sengit Rawan Berakhir Imbang!
Prediksi Skor Malaga vs Levante: Laga Sengit yang Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Java United FC vs Garudayaksa: Laskar Kepodang Emas Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Heerenveen vs AZ Alkmaar di Liga Belanda: Kans De Kaasboeren Pesta Gol!
Dr. Iwan Aflanie, Pakar Forensik Indonesia untuk ULM yang Lebih Maju
