Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Agustus 2026 | 19.46 WIB

Korut Kecam Kunjungan Politisi Jepang ke Kuil Yasukuni, Sebut sebagai Kegilaan Neo-Militeristik

Suasana di Kuil Yasukuni, Jepang. (Kyodo) - Image

Suasana di Kuil Yasukuni, Jepang. (Kyodo)

JawaPos.com - Korea Utara mengecam para politisi Jepang yang mengunjungi Kuil Yasukuni dan mengirimkan persembahan ritual pada 15 Agustus. Pyongyang menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk "kegilaan neo-militeristik" Jepang.

Kritik tersebut disampaikan Korea Utara melalui komentar yang dimuat Korean Central News Agency (KCNA) pada Senin. Pyongyang menuding penghormatan di Kuil Yasukuni menunjukkan adanya ambisi militeristik Jepang.

Tanggal 15 Agustus memiliki makna historis bagi Jepang karena bertepatan dengan peringatan menyerahnya negara tersebut dalam Perang Dunia II pada 1945. Kunjungan politisi Jepang ke kuil tersebut setiap tahun kerap menjadi perhatian negara-negara yang pernah terdampak agresi Jepang pada masa perang.

Kuil Yasukuni sendiri menjadi lokasi penghormatan bagi sekitar 2,46 juta warga Jepang yang gugur dalam perang. Namun, tempat tersebut juga menjadi kontroversi karena terdapat 14 penjahat perang Kelas A yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan internasional atas peran mereka dalam Perang Dunia II.

Pyongyang Soroti Penguatan Militer Jepang

KCNA menilai kunjungan ke Kuil Yasukuni pada tahun ini memiliki makna yang lebih serius. Hal itu dikaitkan dengan berbagai kebijakan Jepang yang menurut Pyongyang menunjukkan peningkatan kemampuan militernya.

Media pemerintah Korea Utara tersebut menyebut sejumlah langkah yang dianggap sebagai bukti perubahan kebijakan Jepang. Di antaranya adalah pengerahan operasional senjata untuk serangan pendahuluan atau preemptive strike, revisi undang-undang industri pertahanan, serta upaya mengubah aturan yang berkaitan dengan nuklir.

Menurut Pyongyang, berbagai kebijakan tersebut menunjukkan Jepang semakin menjauh dari sikap pasif dalam bidang pertahanan. Korea Utara menilai perkembangan tersebut berpotensi menghidupkan kembali karakter militeristik Jepang pada masa lalu.

KCNA juga menyoroti tindakan Sanae Takaichi yang disebut sebagai Perdana Menteri Jepang dalam laporan tersebut. Media Korea Utara itu menggambarkan tindakan Takaichi sebagai bentuk "ibadah jarak jauh secara mendadak" yang dinilai memiliki tujuan politik tertentu.

"Ibadah jarak jauh secara mendadak" yang dilakukan Sanae Takaichi—yang disebut sebagai Perdana Menteri Jepang dalam laporan tersebut—mengungkapkan "rencana untuk meningkatkan semangat invasi ulang" di seluruh negeri serta upayanya untuk "mewujudkan hasrat lama untuk ekspansi ke luar negeri," demikian bunyi laporan itu.

Korea Utara Sebut Jepang Bangkitkan Masa Lalu Militeristik

Pyongyang menilai perkembangan tersebut sebagai bagian dari upaya Jepang memperkuat pengaruh dan kemampuan militernya. Korea Utara juga mengaitkannya dengan kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan kebijakan keamanan Jepang di masa mendatang.

Editor: Edy Pramana
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore