Mark Zuckerberg menegaskan strategi Meta membangun infrastruktur AI berskala raksasa dengan target kapasitas daya hingga ratusan gigawatt.
JawaPos.com — Persaingan kecerdasan buatan (AI) global kini bergerak melampaui pengembangan aplikasi dan model algoritma. Di tengah langkah agresif para tokoh teknologi seperti Elon Musk dan Jeff Bezos memperkuat fondasi komputasi perusahaan mereka, Meta Platforms Inc. mengambil jalur serupa dengan menjadikan infrastruktur sebagai poros utama strategi jangka panjangnya.
Bagi Mark Zuckerberg, pertarungan AI ke depan akan ditentukan oleh siapa yang menguasai pusat data, pasokan listrik, dan daya komputasi berskala raksasa. Arah strategis itu ditegaskan Zuckerberg melalui peluncuran inisiatif baru bertajuk Meta Compute, sebuah unit tingkat tertinggi yang secara khusus menangani pembangunan dan pengelolaan infrastruktur AI Meta.
Inisiatif ini ditempatkan langsung di bawah kendali Zuckerberg, menandakan bahwa infrastruktur tidak lagi dipandang sebagai fungsi pendukung, melainkan sebagai sumber keunggulan kompetitif utama.
Dilansir dari Business Insider, Selasa (13/1/2026), Zuckerberg menyatakan Meta menargetkan pembangunan “puluhan gigawatt” kapasitas daya komputasi dalam dekade ini, serta “ratusan gigawatt atau lebih” dalam jangka panjang. Skala tersebut menempatkan Meta sejajar dengan proyek infrastruktur energi nasional, jauh melampaui kebutuhan operasional perusahaan teknologi konvensional.
Dalam unggahan di Facebook, Zuckerberg menekankan dimensi strategis dari langkah ini. “Cara kami merancang, berinvestasi, dan bermitra untuk membangun infrastruktur ini akan menjadi keunggulan strategis,” tulisnya. Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan mendasar dalam orientasi Meta, dari perusahaan media sosial menjadi pemain infrastruktur AI global.
Pandangan ini berangkat dari keyakinan bahwa keunggulan AI tidak semata ditentukan oleh kecanggihan model, melainkan oleh akses berkelanjutan terhadap daya komputasi dalam skala masif. Sejalan dengan itu, Meta sebelumnya menyampaikan rencana investasi hingga 600 miliar dolar AS—sekitar Rp 10.116 triliun dengan kurs Rp 16.860 per dolar AS—untuk infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja di Amerika Serikat hingga 2028, termasuk pembangunan pusat data AI.
Untuk memberi gambaran skala ambisi tersebut, Departemen Energi Amerika Serikat membandingkan satu gigawatt daya dengan sekitar setengah output Bendungan Hoover, salah satu pembangkit listrik tenaga air terbesar di dunia. Sebagai ilustrasi tambahan yang kerap digunakan dalam diskursus energi, angka 1,21 gigawatt pernah dipopulerkan dalam film Back to the Future Part II sebagai kebutuhan daya mesin waktu fiktif.
Dibandingkan ilustrasi tersebut, target ratusan gigawatt yang dicanangkan Meta menunjukkan lompatan skala infrastruktur yang berada jauh di atas kebutuhan simbolik maupun industri teknologi pada umumnya.
Secara struktural, Meta Compute akan dipimpin oleh Santosh Janardhan, kepala infrastruktur Meta, bersama Daniel Gross, yang bergabung tahun lalu dari perusahaan rintisan AI Safe Superintelligence. Keduanya akan bekerja langsung di bawah Zuckerberg, menegaskan posisi sentral proyek ini dalam peta strategis perusahaan.
Meta juga menunjuk Dina Powell McCormick sebagai presiden dan wakil ketua baru untuk memperkuat dimensi geopolitik dan pendanaan proyek. Mantan wakil penasihat keamanan nasional Presiden Donald Trump dan eks eksekutif Goldman Sachs selama 16 tahun ini akan fokus menjalin kemitraan dengan pemerintah serta entitas berdaulat guna membantu pembangunan dan pembiayaan infrastruktur berskala besar.
Majalah bisnis Fortune menilai langkah Meta sejalan dengan pola yang ditempuh raksasa teknologi lain, termasuk Amazon milik Jeff Bezos dan Microsoft, yang sama-sama memperbesar investasi pada pusat data AI. Menurut Fortune, Zuckerberg memandang kontrol langsung atas infrastruktur sebagai prasyarat untuk bertahan dalam kompetisi AI global. “Kami memandang infrastruktur AI sebagai faktor penentu daya saing jangka panjang,” kata Zuckerberg.
Hingga berita ini diturunkan, Meta belum memberikan tanggapan lanjutan atas permintaan komentar dari Business Insider. Namun arah yang ditempuh perusahaan sudah kian terang: Meta memposisikan daya komputasi berskala raksasa sebagai instrumen strategis untuk memperkuat daya saing dan pengaruhnya dalam peta kekuatan kecerdasan buatan global.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
