
Arsip nasional sebagai bukti bahwa militer Jepang pernah melakukan eksperimen mematikan terhadap warga sipil Tiongkok pada 1930-an dan 1940-an. (theguardian.com)
JawaPos.com - Unit 731 menjadi simbol kelam eksperimen manusia dalam sejarah Perang Dunia II. Di bawah komando Jenderal Shirō Ishii, satuan militer rahasia Jepang ini melakukan serangkaian eksperimen biologi dan kimia terhadap ribuan tahanan perang dan warga sipil di Harbin, Tiongkok, antara tahun 1936 hingga 1945.
Eksperimen yang dilakukan oleh Unit 731 mencakup infeksi penyakit mematikan seperti wabah pes dan kolera, pembedahan tanpa anestesi, hingga pembekuan ekstrem untuk mengamati efek gangren.
Menurut laporan All That's Interesting, para korban disebut sebagai “maruta” atau “batang kayu”, istilah yang mereduksi manusia menjadi objek uji coba.
“Mereka memperlakukan manusia seperti tikus laboratorium,” ujar sejarawan Sheldon Harris dalam wawancaranya yang dikutip oleh situs tersebut.
Shirō Ishii, lulusan Kyoto Imperial University dan anggota Korps Medis Angkatan Darat Jepang, disebut sebagai arsitek utama eksperimen ini.
Dalam artikel All That's Interesting, Ishii diyakini melihat larangan senjata biologis dalam Protokol Geneva sebagai bukti bahwa senjata tersebut sangat efektif.
“Jika senjata biologis begitu berbahaya hingga dilarang, maka itu berarti mereka adalah senjata terbaik,” tulis Andrew Lenoir dalam artikelnya.
Ironisnya, setelah perang berakhir, banyak pelaku Unit 731 tidak pernah diadili. Amerika Serikat dilaporkan memberikan kekebalan hukum kepada para ilmuwan Jepang sebagai imbalan atas data eksperimen mereka. “Mereka menukar keadilan dengan informasi,” tulis Richard Stockton dalam artikel yang sama.
Diperkirakan lebih dari 10.000 orang tewas di fasilitas Unit 731, dan jumlah korban akibat penyebaran senjata biologis yang dikembangkan bisa mencapai ratusan ribu. Hingga kini, pemerintah Jepang belum secara resmi meminta maaf atas kejahatan perang yang dilakukan unit ini.
Situs bekas Unit 731 di Harbin kini telah diubah menjadi museum. Di sana, pengunjung dapat melihat dokumentasi eksperimen, ruang tahanan, dan peralatan medis yang digunakan.
Museum ini menjadi pengingat akan pentingnya etika dalam sains dan betapa mengerikannya ketika ilmu pengetahuan digunakan tanpa kemanusiaan. (*)
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Prediksi Malaysia vs Filipina: Menang atau Harus Berharap Thailand di Piala AFF 2026
Prediksi Thailand vs Myanmar di Piala AFF 2026: Gajah Perang Berpeluang Lolos sebagai Juara Grup
Prediksi Skor Singapura vs Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Misi John Herdman Demi Semifinal!
Daftar Skuad Chelsea dan AC Milan di Indonesia: Luka Modric, Rafael Leao, hingga Cole Palmer
Jafar dan Adnan Diduga Terlibat Match Fixing, PBSI Langsung Ubah Komposisi Ganda Campuran
Jadwal Siaran Langsung dan Link Live Streaming Chelsea vs AC Milan, Tayang di Mana?
Kejagung Periksa Febrie Adriansyah: Kenakan Rompi Pink dan Tangan Terborgol
Presiden Persebaya Surabaya Angkat Bicara Usai Juara, Azrul Ananda: Menuju Bintang Melalui Kesulitan
Profil Kiper Persebaya Reza Arya Pratama, Tepis 2 Penalti Persib di Final Piala Presiden 2026
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
