
Suasana ramai di Pantai Haeundae, Busan, Korea Selatan, yang menjadi destinasi favorit wisatawan selama musim panas 2025
JawaPos.com - Busan, kota pelabuhan terbesar di Korea Selatan, tengah berupaya memperkuat sektor pariwisatanya melalui inovasi transportasi laut. Dilansir dari Travel and Tour World, pemerintah setempat baru-baru ini meluncurkan layanan taksi maritim dan bus amfibi yang menghubungkan dua kawasan wisata utama, yaitu Haeundae dan Gwangalli. Layanan ini bertujuan mempersingkat waktu tempuh antara pantai yang biasanya mencapai 40 menit menjadi hanya sekitar 10 menit saja melalui jalur laut.
Layanan baru ini diproyeksikan menjadi daya tarik wisata baru yang unik. Bus amfibi mampu beroperasi dengan kecepatan hingga 100 km/jam di darat dan 19 km/jam di air. Setiap unit dapat menampung sekitar 40 hingga 50 penumpang, menawarkan pengalaman perjalanan yang menggabungkan panorama laut dan kota dalam satu rute. Pemerintah Busan berharap inovasi ini tidak hanya mengurangi kemacetan, tetapi juga memperluas akses wisatawan ke berbagai destinasi tepi laut.
Namun di sisi lain, geliat pariwisata Haeundae tidak selalu berjalan mulus. Dilansir dari Korea JoongAng Daily, sejumlah pedagang dan pengelola usaha kecil di kawasan pantai justru mengaku merugi selama musim panas tahun 2025. Banyak vendor yang telah membayar biaya sewa tinggi untuk berpartisipasi dalam acara "Haeundae Beach Blowout", namun kegiatan tersebut gagal menarik banyak pengunjung.
Salah satu pedagang bahkan menyebutkan telah mengeluarkan biaya hingga 35 juta won untuk dua bulan sewa lokasi. Menurut laporan yang sama, sebagian besar vendor mengalami kerugian harian mencapai 500.000 hingga 1 juta won. Mereka menilai penyelenggara dan pemerintah kota gagal memberikan dukungan dan promosi yang memadai terhadap acara yang diharapkan mampu menghidupkan kembali kawasan wisata pantai.
Kekecewaan juga muncul karena pembatasan kebisingan dan regulasi yang ketat terhadap kegiatan hiburan di sekitar pantai. Pemerintah daerah hanya mengizinkan tingkat suara hingga 60 desibel, sehingga banyak pertunjukan musik dan acara malam harus dibatalkan. Para pedagang menilai aturan ini mengurangi daya tarik wisata, membuat suasana Haeundae tampak sepi seperti "kota hantu" di tengah musim liburan.
Meski terjadi kelesuan di beberapa titik, secara keseluruhan Busan mencatat pencapaian positif dalam sektor pariwisata. Berdasarkan laporan Stars and Stripes Korea, musim panas 2025 menjadi periode tersibuk dalam lima tahun terakhir. Delapan pantai publik di Busan, termasuk Haeundae, mencatat total lebih dari 21,5 juta kunjungan, meningkat sekitar 9,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pantai Haeundae sendiri mencatat lebih dari 10 juta kunjungan, menjadikannya destinasi paling populer di Busan. Pemerintah kota mengumumkan bahwa musim operasional pantai akan berakhir pada 14 September 2025. Setelah itu, kegiatan patroli dan perawatan pantai tetap dilakukan demi menjaga keselamatan dan kebersihan lingkungan laut.
Pihak berwenang menyebut keberhasilan ini sebagai hasil dari kombinasi promosi wisata, perpanjangan jam operasional pantai, dan inovasi transportasi yang mempermudah mobilitas wisatawan. Namun demikian, sejumlah pihak menilai masih ada kesenjangan antara pencapaian makro dan kesejahteraan pelaku usaha kecil di sekitar pantai.
Perbedaan kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya bergantung pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada distribusi keuntungan ekonomi yang merata. Penerapan inovasi seperti taksi laut dan bus amfibi perlu dibarengi dengan program pemberdayaan ekonomi lokal agar para pedagang dan masyarakat sekitar dapat turut menikmati manfaatnya.
Ke depan, pemerintah Busan diharapkan mampu menyeimbangkan antara pengembangan infrastruktur wisata modern dan pengelolaan kegiatan budaya yang berkelanjutan. Dengan demikian, Haeundae tidak hanya dikenal sebagai pantai dengan fasilitas canggih, tetapi juga sebagai ruang hidup yang mendukung ekonomi lokal serta mempertahankan daya tarik khas Korea Selatan di mata dunia.
