Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 6 Oktober 2025 | 18.13 WIB

Jensen Huang Peringatkan Biaya Visa H-1B Rp1,65 Miliar Dapat Mengalihkan Talenta Teknologi Dunia ke Kanada

Jensen Huang, CEO Nvidia, yang menyoroti dampak kenaikan biaya visa H-1B terhadap arus talenta global. (The American Bazaar) - Image

Jensen Huang, CEO Nvidia, yang menyoroti dampak kenaikan biaya visa H-1B terhadap arus talenta global. (The American Bazaar)

JawaPos.com — CEO Nvidia Jensen Huang memperingatkan bahwa rencana reformasi visa H-1B oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, termasuk biaya aplikasi sebesar USD 100.000 (sekitar Rp1,65 miliar dengan kurs Rp 16.570 per dolar AS), berisiko besar mengalihkan arus talenta teknologi global dari Amerika Serikat ke negara lain, terutama Kanada.

Dalam podcast “BG2 Pod” yang dirilis 26 September lalu, Huang menyebut langkah reformasi itu sebagai awal yang baik karena menargetkan imigrasi ilegal dan penyalahgunaan sistem visa. Namun, dia menegaskan biaya tersebut terlalu tinggi.

“Biaya USD 100.000 untuk visa H-1B mungkin menetapkan ambang yang terlalu sulit dijangkau,” ujarnya, seraya menilai hal itu dapat membuat mahasiswa internasional enggan melanjutkan karier di AS.

Dilansir dari The American Bazaar, Senin (6/10/2025), sang eksekutif kelahiran Taiwan itu menegaskan bahwa kemampuan AS menarik dan mempertahankan individu cerdas adalah ukuran penting masa depan ekonomi.

“Keinginan orang-orang pintar untuk datang ke Amerika dan keinginan mahasiswa cerdas untuk bertahan di sini, itulah yang saya sebut indikator utama kemakmuran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Huang menilai kebijakan tersebut justru menguntungkan raksasa teknologi yang sanggup menanggung biaya sponsor visa, sementara perusahaan rintisan (startup) akan semakin tersisih.

“Kebijakan ini bisa mempercepat aliran investasi keluar dari Amerika Serikat,” tambahnya, dikutip dari The Economic Times.

Selain itu, Huang juga menyoroti kekhawatiran mengenai perlakuan terhadap peneliti asal Tiongkok di tengah persaingan strategis kedua negara. Dia menegaskan pentingnya membedakan kebijakan nasional dengan tindakan terhadap individu.

“Kita harus memastikan agar garis batas itu tidak dilanggar,” katanya menegaskan.

Dalam wawancara sebelumnya dengan CNBC, Huang menegaskan kembali pandangannya tentang reformasi imigrasi, dengan menyebut bahwa imigrasi merupakan “fondasi mimpi Amerika.”

Dia berkata, “Kami ingin semua orang paling cerdas datang ke Amerika. Ingat, imigrasi adalah dasar dari American Dream, dan kami adalah bagian darinya.”

Sementara itu, kebijakan ini membuka peluang besar bagi Kanada. Para pemimpin bisnis dan politik di Ottawa menyerukan agar pemerintah bergerak cepat menarik profesional berkeahlian tinggi yang kini mungkin mengalihkan tujuan mereka.

Perdana Menteri Kanada Mark Carney, dalam pidatonya di Council on Foreign Relations, New York, menyinggung dengan nada jenaka, “Saya dengar Anda sedang mengubah kebijakan visa Anda. Mungkin kami bisa menahan satu atau dua di antara mereka.”

Carney menambahkan bahwa meskipun Kanada memiliki riset dan kemampuan AI yang kuat, “sayangnya sebagian besar talenta kami justru pergi ke AS.” Pernyataannya mencerminkan peluang Kanada untuk memperkuat posisinya sebagai pusat inovasi baru.

Selain itu, dukungan terhadap peluang baru bagi Kanada juga datang dari sektor masyarakat sipil. Organisasi nirlaba Build Canada dalam memo resminya menyatakan bahwa “ratusan ribu profesional H-1B berkeahlian tinggi kini tengah mencari rumah baru,” sambil menilai Kanada sebagai “tujuan yang ideal” berkat kualitas hidup, stabilitas ekonomi, dan kedekatannya dengan Amerika Serikat.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore