
Perdana Menteri sementara Nepal, Sushila Karki. (Reuters)
JawaPos.com - Nepal memasuki babak sejarah baru dengan melantik Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara pada Jumat (12/9).
Penunjukan ini datang setelah sepekan penuh gejolak, ketika demonstrasi besar-besaran memaksa mundurnya Sharma Oli dan mengakibatkan sedikitnya 51 korban jiwa.
Mengutip New York Times, Karki, 73 tahun, bukan sosok asing bagi publik Nepal. Ia adalah ketua Mahkamah Agung perempuan pertama yang dikenal berani menentang korupsi dan praktik politik kotor.
Reputasinya dibangun dari keputusan-keputusan kontroversial yang pernah mengguncang elit politik, termasuk menentang penunjukan kepala kepolisian yang dianggap bermuatan politik.
Upaya pemakzulan terhadap dirinya pada saat itu gagal setelah mendapat tekanan dari masyarakat dan sorotan internasional.
Sebagai hakim, Karki pernah mewajibkan para koleganya menyerahkan catatan akademik untuk mencegah manipulasi usia pensiun.
Ia juga aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadi panutan bagi generasi muda pengacara di Nepal.
“Sebagai seseorang yang selalu ingin melihat seorang pemimpin perempuan memimpin negara, ini sungguh menggembirakan,” kata Prashamsa Subedi, mahasiswa hukum 23 tahun yang turut mengorganisir protes.
Bagi banyak aktivis, penunjukan Karki bukan hanya simbol keterwakilan perempuan, melainkan juga harapan bahwa politik Nepal akan kembali pada jalur transparansi.
Menurut penasihat presiden Sunil Bahadur Thapa, Karki akan membentuk kabinet sementara sebelum membawa Nepal menuju pemilihan umum, yang kemungkinan berlangsung dalam enam hingga delapan bulan ke depan.
Sementara itu, Kathmandu mulai berangsur pulih. Militer berpatroli menjaga keamanan, dan warga bergotong-royong membersihkan puing-puing.
Meski situasi relatif kondusif, tuntutan publik agar pemerintah baru menjawab persoalan korupsi dan ketidakadilan masih terus menggema.
Sebagaimana diketahui, kerusuhan di Nepal sepekan belakangan, yang memicu lengsernya Oli dipicu oleh kebijakan pembatasan media sosial yang dianggap mengekang kebebasan publik.
Namun, akar kemarahan warga jauh lebih dalam. Korupsi pejabat, ketimpangan ekonomi, dan rasa frustrasi terhadap elite politik yang dinilai hanya menguntungkan diri sendiri.
Dipimpin generasi muda, terutama mahasiswa dan kelompok Generasi Z, protes kali ini menjadi yang terbesar sejak Nepal beralih menjadi republik demokratis pada 2008.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
