Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 10 September 2025 | 21.13 WIB

Demonstrasi Semakin Memanas di Nepal, Sejumlah Rumah Pejabat Dibakar dan Perdana Menteri Mengundurkan Diri

Aksi demonstrasi yang terjadi di Kathmandu, Nepal, pada Senin (8/9) (Dok. ndtv/mistar)

JawaPos.com - Demonstrasi terkait pelarangan penggunaan media sosial dan korupsi di Nepal kembali memuncak. Setelah 19 orang tewas pada kerusuhan Senin (8/9), aksi kembali dilakukan pada Selasa (9/9) meskipun pemerintah sudah menginstruksikan jam malam.

Berdasarkan informasi dari Associated Press, laporan media lokal dan beberapa unggahan media sosial setempat menyebutkan bahwa demonstran menyerang kediaman sejumlah pejabat penting di Kathmandu.

Kediaman beberapa politisi dan menteri kabinet dibakar habis oleh massa, termasuk rumah pemimpin partai mayoritas Nepal, Sher Bahadur Deuba; Presiden Ram Chandra Poudel; Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak; dan pemimpin Partai Komunis Maoist Nepal, Pushpa Kamal Dahal.

Tak hanya itu, massa demonstran juga menerobos masuk dan membakar gedung parlemen Nepal. Bandara Kathmandu juga ditutup oleh otoritas setempat akibat asap yang berada dekat di lokasi demonstran.

"Ratusan orang telah menerobos area gedung parlemen dan membakar gedung utama," ujar Ekram Giri, selaku juru bicara Sekretariat Parlemen, dilansir dari Al Jazeera.

Perdana Menteri P.K. Sharma Oli, yang sebelumnya membatalkan kebijakan penggunaan media sosial pada Selasa (9/9) pagi, juga memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya.

"Melihat situasi yang semakin merugikan negara, saya memutuskan untuk mengundurkan diri berlaku hari ini untuk membantu mencari solusi masalah tersebut dan menyelesaikannya sesuai dengan undang-undang konstitusi," ujar PM Oli melalui surat kepada Presiden Paudel.

Seorang ajudan PM Oli memberitahu Reuters bahwa surat pengunduran dirinya sudah diterima dan Presiden sudah memulai proses diskusi terkait pemimpin baru untuk Nepal.

Sebelumnya, Pemerintah Nepal memutuskan untuk memblokir 26 platform media sosial pada minggu sebelumnya sebagai upaya membatasi misinformasi di negara tersebut.

Keputusan ini mengakibatkan demonstrasi besar-besaran di berbagai kota, termasuk ibu kota Kathmandu, yang banyak disebut sebagai "Demonstrasi Gen Z". Para demonstran memprotes kebijakan itu sekaligus meningkatnya tingkat korupsi di negara tersebut.

Aksi demonstrasi yang semula damai menjadi berbahaya ketika polisi memutuskan untuk membubarkan massa dengan gas air mata hingga menggunakan peluru tajam, yang menewaskan setidaknya 19 orang dan melukai ratusan lainnya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore