
Pekerja membangun jaringan jalur kereta barang di Chongqing yang digadang sebagai
JawaPos.com - Tiongkok tengah mendorong Chongqing, kota pegunungan di barat daya negeri itu, menjadi simpul perdagangan darat yang digadang sebagai "Terusan Suez baru." Melalui jalur kereta cepat barang, kawasan ini disebut-sebut akan menyaingi dominasi rute laut internasional.
Dilansir dari Euro News, Senin (8/9/2025), Chongqing kini berkembang pesat sebagai pusat logistik Asia. "Kota ini telah muncul cepat sebagai poros strategis dalam jaringan perdagangan Tiongkok, dan modelnya bisa mendorong pemerintah berinvestasi pada proyek serupa di wilayah barat lain."
Setiap hari, ratusan kargo dikelola di Chongqing, menghubungkan negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura ke Eropa, termasuk Jerman dan Polandia. Dengan kereta barang berkecepatan tinggi, waktu pengiriman dapat dipangkas hingga 10–20 hari dibanding jalur laut tradisional.
Sejak beroperasinya kereta cepat ASEAN pada 2023, pengiriman dari Hanoi ke Chongqing hanya memerlukan lima hari, dan dari sana barang dapat mencapai Eropa kurang dari dua pekan. Seorang analis logistik menegaskan, "Keunggulan jalur darat ini bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kemudahan dalam proses bea cukai."
Lebih jauh, Chongqing juga dikenal sebagai pusat produksi global. Sekitar sepertiga laptop dunia dirakit di kota ini. Selain itu, kawasan ini menjadi basis penting produksi mobil listrik serta pusat ekspor seperempat dari total produksi mobil Tiongkok.
Namun, proyek ini tidak hanya berkaitan dengan aspek logistik, tetapi juga sarat dengan pertimbangan geopolitik. Perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat pada masa pemerintahan Donald Trump membuka mata Beijing terhadap risiko ketergantungan pada jalur laut yang berada di bawah pengaruh Barat, seperti Terusan Suez, Selat Hormuz, dan Selat Malaka. Selain itu, pandemi Covid-19 semakin menegaskan betapa rapuhnya rantai pasok maritim global.
Kondisi itu kian rumit setelah pecahnya perang di Ukraina. Pada 2023, sejumlah pengiriman Tiongkok dilaporkan disita, sehingga jalur melalui Rusia dinilai semakin berisiko, meskipun nilai perdagangan kedua negara masih mencapai 240 miliar euro atau sekitar Rp 4,5 kuadriliun (kurs Rp 19.140 per euro) pada 2024. Untuk mengurangi ketergantungan itu, Beijing kini mendorong pembangunan "Koridor Tengah" yang melewati Kazakhstan dan Laut Kaspia sebagai jalur alternatif.
Meski demikian, tantangan serius masih menghadang. Hambatan berupa keterlambatan bea cukai, biaya tinggi, infrastruktur yang belum memadai, hingga keberlanjutan finansial menjadi sorotan. Banyak jalur, terutama dalam kerangka Belt and Road Initiative, dinilai hanya berjalan berkat subsidi pemerintah.
"Pertanyaannya sekarang adalah seberapa jauh proyek ini dapat bertahan tanpa dukungan finansial masif dari negara," ujar seorang pakar perdagangan internasional kepada Euro News. Menurutnya, jika berhasil, jalur darat Chongqing berpotensi mengubah lanskap perdagangan global.

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
