Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 September 2025 | 15.40 WIB

AS Kritik Prancis soal Rencana Mengakui Negara Palestina, Israel Tolak Kunjungan Presiden Macron

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menggelar pertemuan bilateral di Paris. (BBC) - Image

Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menggelar pertemuan bilateral di Paris. (BBC)

JawaPos.com - Ketegangan diplomatik terkait isu Palestina kembali memanas. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada Kamis (4/9), mengkritik langkah Prancis dan sejumlah negara lain yang mendorong pengakuan resmi terhadap negara Palestina. 

Rubio menilai keputusan tersebut justru berpotensi memicu reaksi keras dari Israel, termasuk kemungkinan aneksasi Tepi Barat. 

Dalam kunjungannya ke Ekuador, Rubio menolak ikut mengecam wacana aneksasi yang muncul di internal politik Israel

Namun ia menegaskan bahwa langkah sejumlah negara Eropa mendorong pengakuan negara Palestina sudah diperkirakan akan memunculkan konsekuensi politik.

“Itu sudah bisa ditebak. Kami sudah mengingatkan, pengakuan sepihak tidak akan melahirkan negara Palestina. Justru akan memicu aksi balasan dan membuat gencatan senjata semakin sulit,” kata Rubio dikutip via Lemonde.

Rubio juga menuding inisiatif penguatan otoritas Palestina di Tepi Barat memberi angin segar bagi Hamas di Gaza. “Hari ketika Prancis mengumumkan pengakuan, Hamas langsung keluar dari meja perundingan,” ujarnya.

Langkah Prancis semakin memperkeruh hubungan dengan Israel. Presiden Emmanuel Macron dijadwalkan menghadiri Sidang Umum PBB pada 22 September, sekaligus mendeklarasikan pengakuan resmi terhadap Palestina. 

Menurut Macron, krisis kemanusiaan dan sikap keras Israel membuat inisiatif ini jadi mendesak untuk dilakukan.

Namun, Israel merespons dengan tegas. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich, politisi sayap kanan, kembali menyerukan aneksasi besar-besaran wilayah Tepi Barat untuk 'mengubur ide negara Palestina'.

Sikap serupa juga datang dari Menteri Luar Negeri Gideon Saar. Dalam percakapan telepon dengan Menlu Prancis Jean-Noel Barrot, Saar menyatakan tidak ada ruang untuk kunjungan Macron jika Paris tetap dengan kebijakan pengakuan tersebut.

“Israel menginginkan hubungan baik dengan Prancis. Tetapi Paris harus menghormati posisi Israel terkait isu yang menyangkut keamanan dan masa depan kami,” tegas Saar dalam pernyataan resmi.

Media Israel, Kan, melaporkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menolak permintaan Macron untuk melakukan kunjungan singkat sebelum Sidang Umum PBB.

Perselisihan ini menambah daftar panjang ketegangan Paris–Tel Aviv. Bulan lalu, Netanyahu menuduh Macron 'mendorong antisemitisme', tuduhan yang langsung dibantah Istana Elysee sebagai keliru dan tidak berdasar.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore