Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 19.58 WIB

Khawatir Ancaman Iran, Kepala IAEA Rafael Grossi Dapat Pengawalan Ketat 24 Jam di Wina

Foto berkas yang dirilis 5 November 2019, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan mesin sentrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. (Atomic Energy Organization of Iran/AP) - Image

Foto berkas yang dirilis 5 November 2019, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan mesin sentrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. (Atomic Energy Organization of Iran/AP)

JawaPos.com - Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi kini mendapat pengawalan ketat dari satuan elit Cobra Austria setelah muncul ancaman serius terhadap dirinya yang diduga berasal dari Iran. 

The Wall Street Journal melaporkan, Rabu (27/8), bahwa pengamanan 24 jam itu telah diberikan sejak akhir Juni berdasarkan informasi intelijen Austria.

Menurut sumber yang mengetahui kasus ini, ancaman tersebut terkait dengan sikap Iran terhadap peran IAEA dalam perang singkat Israel–Iran pada Juni lalu. 

“Kami dapat memastikan Austria memang menurunkan unit Cobra, namun kami tidak bisa mengonfirmasi asal pasti ancaman tersebut,” ujar juru bicara IAEA, Fredrik Dahl, kepada WSJ.

Baik Kementerian Dalam Negeri Austria maupun misi diplomatik Iran belum memberikan komentar resmi atas laporan itu.

Grossi, diplomat asal Argentina yang disebut-sebut berpotensi menjadi Sekretaris Jenderal PBB di masa depan, memang menjadi sasaran kemarahan Teheran sejak perang 12 hari meletus antara Israel dan Iran. 

Dalam konflik tersebut, Israel melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran, sementara Teheran membalas dengan rentetan rudal dan drone mematikan.

Selama perang berlangsung, Ali Larijani—penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei—menulis di X: “Ketika perang usai, kami akan berurusan dengan Grossi.” 

Bahkan media semi-resmi Kayhan menuduh Grossi menjadi mata-mata Israel dan menyerukan agar ia dieksekusi.

Ketegangan semakin meningkat setelah laporan IAEA pada Mei lalu menyebut Iran melakukan aktivitas nuklir rahasia yang relevan dengan pembuatan senjata. 

Temuan itu mendorong AS, Inggris, Prancis, dan Jerman untuk menyiapkan langkah diplomatik menyatakan Iran melanggar kewajibannya sebagai anggota Non-Proliferation Treaty (NPT).

Meski gencatan senjata antara Israel dan Iran sudah berlaku sejak 24 Juni, situasi tetap rapuh. Pada Selasa, Grossi menyebut Iran baru mengizinkan tim awal inspektur IAEA masuk kembali, meski akses penuh ke fasilitas nuklirnya masih belum jelas.

Iran sendiri berkali-kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Namun, pengayaan uranium pada level tinggi serta perluasan program rudal balistik terus menimbulkan kecurigaan internasional.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore