Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Agustus 2025 | 18.22 WIB

Iran Tegaskan Kembalinya Inspektur IAEA Tak Berarti Kerja Sama Penuh dengan PBB

Foto berkas yang dirilis 5 November 2019, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan mesin sentrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. (Atomic Energy Organization of Iran/AP) - Image

Foto berkas yang dirilis 5 November 2019, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan mesin sentrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. (Atomic Energy Organization of Iran/AP)

JawaPos.com - Iran menegaskan kembalinya inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke wilayahnya tidak berarti pemulihan kerja sama penuh dengan badan nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (27/8) mengatakan inspektur IAEA masuk ke Iran dengan izin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.

Namun, ia menekankan belum ada kesepakatan final terkait kerangka kerja sama baru. "Belum ada teks final yang disetujui mengenai kerangka kerja sama dengan IAEA, pembahasan masih berlangsung," ujar Araghchi, dikutip televisi pemerintah.

Menurut laporan kantor berita ICANA, Araghchi juga menegaskan pengawasan internasional tetap dibutuhkan, misalnya dalam pergantian bahan bakar reaktor nuklir Bushehr.

Iran sempat menghentikan kerja sama dengan IAEA setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu. Saat itu, Teheran menuding badan nuklir dunia gagal mengecam serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran, meski reaktor Bushehr tidak ikut diserang.

Kepala IAEA Rafael Grossi mengonfirmasi bahwa tim inspektur sudah kembali ke Iran. "Ada banyak fasilitas di Iran. Sebagian diserang, sebagian tidak. Kami sedang membahas mekanisme praktis agar pekerjaan bisa dilanjutkan," kata Grossi kepada Fox News.

Langkah ini muncul bersamaan dengan pertemuan Iran dengan Inggris, Prancis, dan Jerman di Jenewa pada Selasa (26/8). Diskusi berfokus pada upaya Teheran mencegah diterapkannya kembali 'snapback sanctions' atau sanksi otomatis yang diancamkan Eropa di bawah perjanjian nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingatkan negara-negara Eropa akan adanya konsekuensi jika sanksi benar-benar dipulihkan. Inggris, Prancis, dan Jerman sendiri sudah memberi tenggat hingga akhir Agustus untuk memutuskan.

Pertemuan di Jenewa itu merupakan putaran kedua setelah perang Juni, yang dipicu serangan mendadak Israel terhadap pejabat militer senior Iran dan beberapa fasilitas nuklir. Israel berdalih serangan tersebut untuk mencegah Iran membangun senjata nuklir, klaim yang berkali-kali dibantah Teheran dengan alasan program nuklirnya murni untuk kebutuhan sipil, termasuk energi.

Kesepakatan JCPOA awalnya memberikan Iran keringanan sanksi dengan imbalan inspeksi rutin terhadap program nuklirnya. Namun, kesepakatan itu goyah setelah Donald Trump menarik Amerika Serikat secara sepihak pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi keras terhadap Iran.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore