
Foto berkas yang dirilis 5 November 2019, oleh Organisasi Energi Atom Iran, menunjukkan mesin sentrifuge di fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran tengah. (Atomic Energy Organization of Iran/AP)
JawaPos.com - Iran menegaskan kembalinya inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ke wilayahnya tidak berarti pemulihan kerja sama penuh dengan badan nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (27/8) mengatakan inspektur IAEA masuk ke Iran dengan izin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi.
Namun, ia menekankan belum ada kesepakatan final terkait kerangka kerja sama baru. "Belum ada teks final yang disetujui mengenai kerangka kerja sama dengan IAEA, pembahasan masih berlangsung," ujar Araghchi, dikutip televisi pemerintah.
Menurut laporan kantor berita ICANA, Araghchi juga menegaskan pengawasan internasional tetap dibutuhkan, misalnya dalam pergantian bahan bakar reaktor nuklir Bushehr.
Iran sempat menghentikan kerja sama dengan IAEA setelah perang 12 hari dengan Israel pada Juni lalu. Saat itu, Teheran menuding badan nuklir dunia gagal mengecam serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran, meski reaktor Bushehr tidak ikut diserang.
Kepala IAEA Rafael Grossi mengonfirmasi bahwa tim inspektur sudah kembali ke Iran. "Ada banyak fasilitas di Iran. Sebagian diserang, sebagian tidak. Kami sedang membahas mekanisme praktis agar pekerjaan bisa dilanjutkan," kata Grossi kepada Fox News.
Langkah ini muncul bersamaan dengan pertemuan Iran dengan Inggris, Prancis, dan Jerman di Jenewa pada Selasa (26/8). Diskusi berfokus pada upaya Teheran mencegah diterapkannya kembali 'snapback sanctions' atau sanksi otomatis yang diancamkan Eropa di bawah perjanjian nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingatkan negara-negara Eropa akan adanya konsekuensi jika sanksi benar-benar dipulihkan. Inggris, Prancis, dan Jerman sendiri sudah memberi tenggat hingga akhir Agustus untuk memutuskan.
Pertemuan di Jenewa itu merupakan putaran kedua setelah perang Juni, yang dipicu serangan mendadak Israel terhadap pejabat militer senior Iran dan beberapa fasilitas nuklir. Israel berdalih serangan tersebut untuk mencegah Iran membangun senjata nuklir, klaim yang berkali-kali dibantah Teheran dengan alasan program nuklirnya murni untuk kebutuhan sipil, termasuk energi.
Kesepakatan JCPOA awalnya memberikan Iran keringanan sanksi dengan imbalan inspeksi rutin terhadap program nuklirnya. Namun, kesepakatan itu goyah setelah Donald Trump menarik Amerika Serikat secara sepihak pada 2018 dan kembali memberlakukan sanksi keras terhadap Iran.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
