
Larry Ellison, pendiri Oracle yang dulu meremehkan komputasi awan (Cloud Computation), kini menjadi orang terkaya kedua di dunia berkat ledakan bisnis cloud dan kecerdasan buatan. (Times of India)
JawaPos.com — Pendiri Oracle, Larry Ellison, pernah menyebut komputasi awan (cloud computing) sebagai “omong kosong belaka” pada 2008. Namun ironi sejarah kini membuat teknologi yang dulu dia remehkan justru menjadi sumber utama kesuksesannya. Ellison kini tercatat sebagai orang terkaya kedua di dunia, melampaui Jeff Bezos dan Mark Zuckerberg.
Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Ellison mencapai 288 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.705 triliun (kurs Rp16.340 per dolar AS). Posisinya hanya berada di bawah Elon Musk yang memiliki 379 miliar dolar AS atau setara Rp6.192 triliun.
Dilansir dari Times of India, Senin (25/8/2025), lonjakan kekayaan Ellison tidak lepas dari keberhasilan Oracle dalam bisnis layanan cloud, terutama di tengah ledakan permintaan kecerdasan buatan (AI).
“Oracle sedang menuju menjadi salah satu perusahaan infrastruktur cloud terbesar di dunia,” ujar CEO Oracle, Safra Catz.
Dia menambahkan bahwa pertumbuhan pendapatan pada 2026 akan “jauh lebih tinggi.”
Oracle, yang sejak lama dikenal sebagai raksasa basis data, sempat tertatih dalam menemukan pijakan di industri cloud.
Namun strategi agresif di bawah kepemimpinan Catz berhasil mengubah arah. Kini, Oracle menjadi penyedia utama infrastruktur komputasi untuk perusahaan besar, termasuk OpenAI dan xAI milik Elon Musk.
Dampak transformasi itu terlihat pada Juni lalu ketika saham Oracle melonjak 13 persen ke posisi 199,85 dolar AS per lembar, kenaikan terbesar dalam setahun. Lonjakan harga saham ini menambah kekayaan Ellison lebih dari 20 miliar dolar AS hanya dalam satu hari perdagangan.
Ellison juga mengungkapkan bahwa Oracle baru saja menerima kontrak bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Kami mendapat pesanan yang meminta seluruh kapasitas yang kami miliki di berbagai lokasi. Pesanan sebesar ini belum pernah kami terima sebelumnya,” ungkapnya.
Untuk memenuhi lonjakan permintaan, Oracle meningkatkan belanja modal secara agresif. Tahun lalu, perusahaan menggelontorkan 21,2 miliar dolar AS (sekitar Rp346 triliun) dan tahun ini menargetkan naik menjadi 25 miliar dolar AS (sekitar Rp408 triliun).
Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan pusat data raksasa yang dirancang khusus guna menopang beban kerja AI.
Ellison menegaskan bahwa keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan utama.
“Alasannya sederhana, kami hanya bisa membangun pusat data dan komputer ini secepat yang kami bisa,” jelasnya.
Transformasi Oracle menegaskan bagaimana sikap skeptis bisa berbalik menjadi tonggak kesuksesan. Dari meremehkan cloud sebagai “omong kosong belaka" Ellison kini membuktikan bahwa strategi tepat, disertai momentum ledakan AI, dapat mengubah kritik menjadi kekuatan finansial yang luar biasa. (*)

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Prediksi Skor Kanada vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: Alphonso Davies Diragukan Tampil!
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Beredar Kabar Komedian Bolot Meninggal Dunia, Begini Faktanya
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Prediksi Duel Seru Korea Selatan vs Ceko, Son Heung-min Jadi Kunci!
Prediksi Susunan Pemain Korsel vs Republik Ceko: Son Heung-min Tegaskan Siap Bantu Taegeuk Warrior Menang!
Daftar Pemain Amerika Serikat dan Paraguay di Grup D Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Prediksi Kanada vs Bosnia di Piala Dunia 2026: Tuan Rumah Dibayangi Ancaman Kuda Hitam dari Eropa
