Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 12 Agustus 2025 | 19.04 WIB

Hoaks Video Orca Jessica Radcliffe, Ini Penjelasan Ilmiah Kenapa Kita Mudah Percaya

Foto viral dengan narasi pelatih lumba-lumba bernama Jessica Radcliffe tewas diserang paus orca. (Facebook)

JawaPos.com - Fenomena video viral di media sosial kembali memicu perbincangan publik. Kali ini, muncul rekaman yang mengklaim menunjukkan pelatih orca bernama Jessica Radcliffe tewas diserang paus pembunuh di sebuah pertunjukan. 

Video tersebut ramai beredar di TikTok, X, Facebook dan Instagram. Konten hoaks tersebut juga memicu kepanikan sekaligus rasa penasaran warganet.

Faktanya, video itu sepenuhnya palsu. Dikutip via Forbes, berdasarkan penelusuran ahli forensik digital, tidak ada pelatih bernama Jessica Radcliffe, dan insiden tersebut tidak pernah terjadi. 

Hasil penelusuran menunjukkan video itu merupakan produk rekayasa kecerdasan buatan (AI) dengan visual yang dibuat sedemikian meyakinkan, sehingga tampak seperti berita sungguhan.

Lantas, mengapa video hoaks AI begitu mudah diterima dan dicerna mentah-mentah oleh mereka yang melihat?

Pakar perilaku manusia menjelaskan, kita punya kecenderungan alami untuk mempercayai apa yang kita lihat, apalagi jika disajikan dengan narasi dramatis dan visual meyakinkan. 

Secara psikologis, otak manusia memproses informasi visual lebih cepat daripada teks. Artinya, sebelum kita sempat berpikir kritis, emosi kita sudah lebih dulu terpicu.

Menurut penelitian yang dikutip dari buku Morbidly Curious karya Coltan Scrivner, otak manusia bereaksi kuat terhadap berita negatif atau kejadian mengerikan karena dua alasan utama. 

Pertama adalah naluri bertahan hidup. Kita secara refleks ingin memahami potensi ancaman, seolah sedang berlatih menghadapi bahaya di dunia nyata.

Kedua adalah daya tarik sensasi. Konten dramatis atau menyeramkan memicu rasa ingin tahu yang membuat kita sulit berpaling, mirip dorongan untuk melihat kecelakaan lalu lintas meski tahu itu tidak nyaman.

Media sosial memperkuat efek ini dengan algoritma yang memprioritaskan konten memicu emosi, sehingga video seperti hoaks Jessica Radcliffe lebih cepat menyebar. 

Dengan teknologi AI yang mampu membuat gambar dan video realistis, batas antara fakta dan fiksi semakin kabur, memudahkan orang mencerna informasi palsu tanpa verifikasi.

Yang jelas, kasus hoaks Jessica Radcliffe menjadi pengingat bahwa di era AI, kemampuan fact-checking dan literasi digital menjadi keterampilan penting. Setiap konten yang terlihat terlalu dramatis atau memicu emosi ekstrem sebaiknya diperiksa kembali sumbernya sebelum dibagikan.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore