
Bulan diperkirakan akan menjadi medan baru bagi pemanfaatan energi nuklir, terutama melalui teknologi mikroreaktor. (France24)
JawaPos.com — Pemerintah Amerika Serikat (AS) melalui NASA berambisi mengalahkan Tiongkok dan Rusia dalam perlombaan membangun reaktor nuklir pertama di permukaan bulan. Peluncuran reaktor tersebut ditargetkan paling lambat akhir 2029.
Penegasan itu disampaikan oleh Menteri Perhubungan AS, Sean Duffy, yang saat ini menjabat sebagai Pelaksana Tugas Administrator NASA. Dalam memo tertanggal 31 Juli 2025, Duffy menyatakan, “AS harus menempatkan pembangkit listrik tenaga nuklir kecil di bulan sebelum Tiongkok dan Rusia melakukannya.”
Dilansir dari France24 , Rabu (6/8/2025), Duffy memperingatkan bahwa Tiongkok dan Rusia menargetkan peluncuran reaktor nuklir untuk mendukung pangkalan bersama mereka di bulan pada pertengahan 2030-an.
Dia juga mewanti-wanti risiko dominasi geopolitik di luar angkasa. “Negara pertama yang berhasil bisa saja menetapkan zona larangan masuk yang akan sangat menghambat kehadiran Artemis jika AS tidak lebih dulu berada di sana,” ujarnya, merujuk pada program eksplorasi bulan NASA.
Duffy telah memerintahkan NASA untuk mengeluarkan permintaan proposal kepada sektor industri dalam waktu 60 hari. Reaktor tersebut harus mampu menghasilkan daya minimal 100 kilowatt, cukup untuk menyuplai listrik ke sekitar 80 rumah tangga di AS. Rencananya, reaktor akan diangkut menggunakan pendarat kelas berat dengan kapasitas muatan hingga 15 metrik ton.
Proyek ini merupakan bagian dari program Fission Surface Power NASA yang mengandalkan teknologi mikroreaktor. Namun hingga kini, belum ada satu pun mikroreaktor yang mendapat lisensi dari Komisi Regulasi Nuklir AS.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump sempat menerbitkan sejumlah perintah eksekutif untuk mempercepat komersialisasi reaktor nuklir berukuran kecil.
Langkah ambisius ini diambil di tengah ketidakpastian anggaran NASA, setelah pemerintahan Trump mengusulkan pemangkasan dana secara signifikan.
Sementara itu, posisi Administrator NASA hingga kini belum dikonfirmasi oleh Senat, menyusul pencabutan calon sebelumnya akibat perseteruan antara Gedung Putih dan CEO SpaceX, Elon Musk.
Menurut laporan Politico, Duffy ditunjuk sebagai pelaksana tugas Administrator NASA pada Mei lalu setelah pencalonan kandidat sebelumnya dibatalkan. Meski baru menjabat, dia langsung bergerak cepat mendorong prioritas baru NASA.
Peluncuran reaktor ini diharapkan menjadi simbol keunggulan strategis AS di luar angkasa dalam menghadapi ambisi saingannya di Asia dan Eropa Timur.
***

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
