Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 17 Juli 2025 | 18.39 WIB

Israel Gempur Jantung Pemerintahan Damaskus, Ketegangan Regional Memanas, Satu Tewas dan 18 Terluka

Foto yang dirilis Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 1 Januari 2024 ini memperlihatkan pasukan Israel melakukan operasi militer di Jalur Gaza. (IDF/HO via Xinhua)

JawaPos.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara ke Damaskus, ibu kota Suriah, pada Kamis (17/7). 

Target serangan mencakup gerbang markas besar militer Suriah dan area di dekat istana presiden. Ini merupakan hari ketiga berturut-turut Israel melakukan serangan ke wilayah Suriah.

Media pemerintah Suriah mengkonfirmasi adanya ledakan dahsyat di pusat kota. Sedikitnya satu orang dilaporkan tewas dan 18 lainnya mengalami luka akibat serangan tersebut.

Dilansir dari ABC, serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik sektarian di selatan Suriah, tepatnya di kota Sweida, yang melibatkan bentrokan antara klan Bedouin dan milisi dari komunitas Druze. 

Pemerintah Israel mengklaim serangan mereka ditujukan untuk melindungi warga Druze, kelompok minoritas agama yang juga memiliki komunitas besar di Israel.

Pemerintahan baru Suriah yang dipimpin oleh mantan militan Ahmed al-Sharaa mengecam keras tindakan Israel. Dalam pernyataan resminya, al-Sharaa menyebut serangan tersebut sebagai upaya sistematis untuk menciptakan kekacauan dan memperkeruh stabilitas nasional.

Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu, militer Israel telah aktif beroperasi di wilayah Suriah. 

Bahkan, pasukan Israel dikabarkan sempat menyeberang langsung dari wilayah Golan Heights yang diduduki Israel menuju selatan Suriah, hanya beberapa jam setelah Assad digulingkan oleh kelompok pemberontak.

Sementara itu, spekulasi sempat berkembang bahwa pemimpin baru Suriah, al-Sharaa, sedang mempertimbangkan kesepakatan damai dengan Israel, yang bisa membuka jalan bagi normalisasi hubungan kedua negara. 

Namun, serangan beruntun yang terjadi belakangan ini justru memperumit kemungkinan tersebut.

Dengan tidak adanya tanda-tanda de-eskalasi, para analis memperingatkan bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas. 

Ketegangan antar komunitas serta intervensi militer lintas batas seperti ini semakin mengancam kestabilan kawasan yang sudah lama bergolak.

Editor: Kuswandi
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore