Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 14 Juli 2025 | 17.21 WIB

Iran Ultimatum AS: Mau Negosiasi Nuklir? Jangan Serang Lagi!

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) mencerminkan perbedaan pendekatan keduanya terhadap Iran pasca-serangan.. (Open AI) - Image

Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) mencerminkan perbedaan pendekatan keduanya terhadap Iran pasca-serangan.. (Open AI)

JawaPos.com - Setelah serangkaian serangan yang bikin dunia menahan napas, Iran akhirnya buka pintu negosiasi lagi dengan Amerika Serikat (AS).

Tapi jangan salah, tawaran ini bukan tanpa syarat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan tegas melempar ultimatum: “Kalau mau negosiasi, hentikan dulu semua serangan terhadap kami.”

Dalam pernyataan yang disiarkan oleh media pemerintah Iran pada Sabtu (12/7), Araghchi mengungkapkan bahwa pemerintahnya bersedia kembali duduk di meja perundingan, asal ada jaminan keras tak akan ada lagi agresi militer seperti yang terjadi bulan lalu.

“Pertama-tama, harus ada jaminan tegas bahwa tindakan seperti ini tidak akan terulang. Serangan terhadap fasilitas nuklir Iran telah membuat penyelesaian lewat negosiasi menjadi lebih sulit dan rumit,” tegas Araghchi.

Serangan Kejut Israel-AS Jadi Titik Buntu

Pernyataan ini datang setelah peristiwa dramatis pada 13 Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangan mendadak ke situs nuklir Iran, termasuk fasilitas strategis di Natanz dan beberapa lokasi peluncur rudal balistik. Belum sempat pulih, giliran AS yang meluncurkan serangan udara pada 22 Juni.

Meski serangan itu gagal menghancurkan program nuklir Iran secara total, intelijen awal Pentagon menyebut bahwa kemampuannya tertunda beberapa bulan.

Pemerintahan Trump, di sisi lain, tetap keras kepala. Mereka menyebut serangan itu berhasil 'menghancurkan' program nuklir Iran dan kembali menyerukan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir.

Sebagai respons atas serangan tersebut, Iran langsung membekukan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), lembaga pengawas nuklir PBB. Akibatnya, para inspektur yang selama ini memantau aktivitas Iran harus angkat kaki dari negara itu.

Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklir mereka bersifat damai dan uranium yang mereka perkaya bukan untuk senjata, melainkan untuk kebutuhan energi dan medis.

Saat ini, situasi antara Iran, AS, dan Israel seperti berjalan di atas kaca. Meski ada semacam gencatan senjata tidak resmi, api konflik bisa tersulut kapan saja jika tidak ada solusi diplomatik yang nyata.

Pernyataan tegas dari Araghchi jelas menjadi peringatan bagi Washington: jika ingin damai, tunjukkan itikad baik. Kalau tidak, jangan harap krisis ini selesai di ruang negosiasi, bisa jadi malah pecah di medan perang.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore