Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Juli 2025 | 03.39 WIB

Rotasi Bumi Makin Cepat, Tiga Hari di Juli dan Agustus 2025 Akan Lebih Pendek dari Biasanya

Ilustrasi Bumi yang berputar lebih cepat dari biasanya. (dok Freepik) - Image

Ilustrasi Bumi yang berputar lebih cepat dari biasanya. (dok Freepik)

JawaPos.com - Ilmuwan memprediksi bahwa rotasi Bumi akan mengalami percepatan ringan pada pertengahan tahun ini, membuat beberapa hari terasa lebih pendek dari biasanya, setidaknya dalam hitungan milidetik.

Fenomena ini dipantau oleh International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) dan United States Naval Observatory, yang mengungkapkan bahwa 9 Juli 2025 akan menjadi salah satu hari terpendek dalam sejarah pengamatan modern, dengan durasi lebih singkat sekitar 1,30 milidetik dari panjang hari normal.

Percepatan rotasi juga diperkirakan terjadi kembali pada 22 Juli dan 5 Agustus, dengan masing-masing hari lebih pendek sebesar 1,38 milidetik dan 1,5 milidetik.

Meskipun terdengar sepele, fenomena ini menandai tren menarik yang terus dicermati ilmuwan sejak 2020, yakni bahwa Bumi tampaknya berputar semakin cepat dari tahun ke tahun.

Apa Penyebabnya?

Dilansir dari laporan The Guardian, para ahli meyakini bahwa posisi Bulan yang berada pada jarak terjauh dari khatulistiwa Bumi ikut memengaruhi percepatan rotasi. Ketika Bulan berada di titik ini, gaya pasang surutnya terhadap Bumi melemah, sehingga memungkinkan rotasi menjadi sedikit lebih cepat. Selain itu, perubahan distribusi massa dari atmosfer, lautan, hingga dinamika inti Bumi turut mempercepat putaran planet kita.

Menurut Live Science, faktor-faktor kecil seperti pergeseran arus laut dan mencairnya es di kutub juga dapat memengaruhi kecepatan rotasi, meski belum diketahui secara pasti sejauh mana kontribusinya terhadap fenomena ini.

Dampaknya bagi Manusia?

Secara umum, perubahan durasi harian sebesar satu hingga dua milidetik tidak akan dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Namun, bagi sistem teknologi presisi tinggi seperti GPS, navigasi satelit, hingga jaringan keuangan global, perubahan ini dapat menimbulkan kesalahan sinkronisasi jika tidak diperhitungkan.

Beberapa ilmuwan bahkan mulai membahas kemungkinan penerapan “negative leap second”, penyesuaian waktu yang mengurangi satu detik dari jam resmi dunia. Jika dilakukan, ini akan menjadi yang pertama dalam sejarah sistem waktu internasional.

Meskipun rotasi Bumi memang mengalami fluktuasi secara alami, percepatan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir memunculkan banyak pertanyaan. Apakah ini bagian dari siklus jangka panjang? Atau ada perubahan besar yang belum sepenuhnya dipahami oleh sains?

Yang jelas, para ilmuwan terus memantau fenomena ini dengan saksama. Setiap milidetik yang hilang mungkin terasa tak berarti bagi kita, namun bagi dunia sains, ini adalah isyarat bahwa planet tempat kita tinggal terus berubah, dalam cara yang mungkin tak kita sadari.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore