Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 Juli 2025 | 20.43 WIB

Ketegangan Iran-Israel Memanas: Dubes Boroujerdi Tegaskan Tak Ada Gencatan Senjata: Hanya Hentikan Bela Diri

Serangan Angkatan Udara Israel terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 23 Juni 2025.  (Mohammadjavad Alikhani via Wikimedia Commons) - Image

Serangan Angkatan Udara Israel terhadap ibu kota Iran, Teheran, pada 23 Juni 2025. (Mohammadjavad Alikhani via Wikimedia Commons)

JawaPos.com - Ketegangan antara Iran dan Israel kian meruncing, terutama setelah serangan udara Israel yang menghantam sejumlah fasilitas strategis Iran, termasuk situs-situs yang diduga terkait program nuklir. 

Di tengah isu yang beredar tentang kemungkinan gencatan senjata, Iran justru menegaskan bahwa tidak pernah ada kesepakatan untuk itu.

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, membantah tegas narasi soal adanya gencatan senjata antara negaranya dan Israel. Ia menjelaskan, situasi saat ini murni karena berhentinya agresi dari pihak Israel, bukan karena ada perjanjian damai.

"Yang ada adalah dikarenakan aksi agresi terhadap Iran berhenti, maka aksi bela diri kami berhenti," ujar Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (3/7).

Dubes Boroujerdi mengungkapkan bahwa serangan dari Israel dilancarkan justru saat Iran tengah melakukan proses diplomasi intensif dengan Amerika Serikat terkait program nuklirnya. Bahkan, menurutnya, serangan itu datang setelah Iran melakukan lima kali negosiasi langsung dengan AS.

"Sebelum rezim Zionis menyerang kami, kami posisinya adalah sedang negosiasi dengan Amerika. Rezim Zionis menyerang pada saat kami sudah lima kali melakukan negosiasi langsung dengan mereka berkaitan dengan aktivitas nuklir," katanya.

Serangan tersebut bukan hanya menewaskan sejumlah tokoh penting Garda Revolusi Iran (IRGC), tetapi juga menghantam situs-situs strategis, termasuk fasilitas rudal dan lokasi pengayaan uranium. Hal ini membuat kepercayaan Iran terhadap proses negosiasi runtuh total.

"Tentu setelah serangan ini, kepercayaan antara satu sama lain sudah roboh dan tidak ada. Sekarang, berkaitan dengan negosiasi nuklir, kita sedang berada dalam tahap harus membangun percaya, rasa percaya antara satu sama lain," jelas Boroujerdi.

Iran pun menegaskan bahwa selama ini tidak pernah memulai konflik, melainkan hanya merespons sebagai bentuk pertahanan diri.

"Tentu kami tidak pernah melakukan serangan kepada negara lain. Kami selalu melakukan bela diri. Kami tidak memulai perang tapi selalu siap membela diri," tegasnya.

Program Nuklir Iran

Meski Iran berulang kali menyatakan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, kecurigaan dunia internasional tetap tinggi. Badan Intelijen AS dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut bahwa Iran terakhir kali memiliki program senjata nuklir yang terorganisir pada 2003.

Namun kekhawatiran meningkat karena laporan-laporan terbaru menunjukkan bahwa Iran telah memperkaya uranium hingga tingkat 60 persen, hanya selangkah dari 90 persen, kadar yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Situasi ini diperparah dengan serangan Israel yang menargetkan fasilitas pengayaan uranium, yang diyakini Tel Aviv bisa digunakan untuk tujuan militer.

Dengan kepercayaan internasional yang mulai menipis, terutama pasca-serangan Israel, upaya untuk kembali ke meja perundingan kini berada di ujung tanduk. Iran tampaknya bersikap lebih hati-hati, menuntut jaminan keamanan dan penghentian agresi sebelum bisa bicara soal kesepakatan baru.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore