Kelaparan yang diderita warga Gaza. (Dok. X/@mhdksafa)
JawaPos.com - Pasukan Israel tak ada berhentinya melakukan genosida terhadap warga Gaza. Bayangkan berdiri di bawah terik mentari pagi, dengan harapan sederhana: mendapatkan sekarung tepung atau sekotak makanan. Namun yang datang bukanlah bantuan, melainkan ledakan, peluru, dan kematian.
Sedikitnya 78 warga Gaza tewas dalam serangan Israel sejak Rabu (25/6) dini hari, termasuk 14 orang yang sedang menunggu bantuan di pusat distribusi makanan. Tragedi memilukan ini menambah deretan panjang kekejaman yang menimpa penduduk sipil yang semakin terjepit di tengah blokade dan deru perang.
Menurut sumber medis di Rumah Sakit al-Awda dan Al-Aqsa Martyrs, sembilan korban tewas tertembak saat berada di sekitar Persimpangan Netzarim, wilayah tengah Gaza yang kini berubah jadi medan berburu manusia.
Ironisnya, insiden ini terjadi di titik-titik bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah lembaga kontroversial yang didukung Israel dan Amerika Serikat. Lembaga ini awalnya diharapkan menjadi penyelamat, namun kini justru dituding sebagai "perangkap kematian".
“Bayangkan, warga diberi waktu hanya 20 menit untuk mengantre bantuan, di bawah todongan sniper dan tank. Setelah itu, peluru mulai menghujani,” ungkap jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud dari Gaza City.
GHF kini berada di bawah sorotan tajam. Badan-badan kemanusiaan internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, menuduh lembaga ini menjadikan bantuan pangan sebagai alat kendali perang.
Bukannya menyelamatkan, mereka justru membuka pintu bagi pembantaian massal yang sistematis.
Israel membela diri dengan mengatakan bahwa penembakan dilakukan terhadap “tersangka” yang mendekat ke pasukan mereka. Namun bagi ribuan pengungsi yang antre dalam kondisi kelaparan dan keputusasaan, peluru itu tak pernah membedakan antara ibu, anak-anak, atau kakek renta.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza memperingatkan bahwa sistem kesehatan telah berada di titik runtuh. Rumah sakit yang masih beroperasi kehabisan tempat, obat, dan tenaga medis. Ruang ICU dan ruang rawat penuh sesak, bahkan lorong-lorong rumah sakit kini menjadi ruang perawatan darurat.
“Kami kehabisan waktu. Orang-orang sekarat bukan karena luka yang tak bisa disembuhkan, tapi karena tak ada yang bisa mengobati mereka,” kata seorang dokter di Gaza kepada wartawan.
Di tengah semua ini, Presiden AS Donald Trump justru menyebut ada “kemajuan besar” menuju akhir perang, pernyataan yang terdengar sinis di telinga para keluarga korban yang jenazahnya berserakan di tenda-tenda pengungsian.
Gaza kini tak hanya menghadapi perang, tapi juga krisis kemanusiaan yang mengguncang nurani dunia. Yang mereka butuhkan bukan hanya gencatan senjata, tapi juga keadilan. Dan waktu mereka terus habis, satu ledakan, satu peluru, satu nyawa pada satu waktu.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
