
Ilustrasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia. (Google Maps)
JawaPos.com - Dunia kembali berada di ujung tanduk setelah parlemen Iran dengan suara bulat menyetujui rencana kontroversial: memblokir Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak dan gas paling vital di dunia.
Langkah ekstrem ini disebut sebagai balasan langsung atas serangan udara Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Meski keputusan parlemen sudah bulat, implementasi penuh penutupan Selat Hormuz masih menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, badan tertinggi negara dalam pengambilan keputusan strategis.
Namun, sinyal ini saja sudah cukup untuk mengguncang pasar global. Iran tampaknya tak suka membual, bukan tipikal negara yang kebanyakan omong kosong.
Atas bulatnya keputusan Parlemen Iran menutup Selat Hormuz, mengutip NewsOnAir, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengecam keras langkah Iran yang disebutnya sebagai "bunuh diri ekonomi".
Rubio juga memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz benar-benar ditutup, maka akan ada respons militer besar-besaran dari AS dan sekutunya.
Ia bahkan menyerukan agar Tiongkok segera menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk mencegah krisis ini, mengingat Beijing sangat bergantung pada jalur ini untuk impor minyaknya.
Pasar juga langsung bereaksi. Harga minyak dunia melonjak, dan sejumlah perusahaan pelayaran global menaikkan status waspada armada mereka.
Para analis memperkirakan harga minyak bisa menembus angka lebih dari USD 100 per barel jika blokade ini benar-benar diberlakukan.
Militer Amerika juga tidak tinggal diam. Pentagon dilaporkan telah meningkatkan kesiagaan di seluruh kawasan Teluk dan menyiapkan skenario konfrontasi laut guna menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.
Sebab, jika jalur ini tertutup, dampaknya bisa menjadi ancaman eksistensial bagi keamanan energi global dan kestabilan ekonomi dunia.
Langkah Iran ini mengingatkan kembali pada masa kelam Tanker War di era 1980-an, ketika kapal-kapal dagang menjadi target serangan dalam konflik berkepanjangan antara Iran dan Irak.
Namun, ancaman kali ini dinilai jauh lebih berbahaya, mengingat ketegangan geopolitik global yang sedang memuncak dan pasar energi yang masih belum pulih sepenuhnya dari krisis sebelumnya.
Penutupan Selat Hormuz bukan hanya soal dampak regional. Ini adalah ancaman langsung terhadap pasokan energi dunia, sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja jika tidak segera diredam oleh diplomasi internasional.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
