
Seorang pekerja memeriksa puing-puing pesawat Boeing Air India pada 14 Juni yang jatuh di Ahmedabad, India (Dok. Amit Dave/Reuters)
JawaPos.com - "Mayday, mayday," menjadi kata terakhir yang terdengar dari radio kokpit pesawat Air India 171 sebelum pesawat itu jatuh dan menewaskan lebih dari 270 orang pada Kamis (12/6).
Pesawat yang seharusnya terbang dari Ahmedabad menuju London itu dipiloti oleh Kapten Sumeet Sabharwal. Menurut keterangan resmi dari otoritas penerbangan India yang dikutip dari The Guardian, ia mengirim sinyal darurat ke menara kontrol hanya kurang dari satu menit setelah lepas landas pada pukul 13.39 waktu setempat.
Sayangnya, tak ada respons lanjutan dari pesawat ketika pihak pengatur lalu lintas udara mencoba membalas panggilan mayday tersebut. "Tak ada tanggapan," ujar Samir Kumar Sinha, Sekretaris Kementerian Penerbangan India.
Beberapa detik setelah panggilan terakhir itu, pesawat langsung jatuh. Menurut penyelidikan awal, pesawat sempat mencapai ketinggian 650 kaki, lalu tiba-tiba turun drastis dan menghantam tanah.
Lokasi jatuhnya berada di kawasan Meghani Nagar, sekitar dua kilometer dari bandara Ahmedabad. Pesawat berbobot 227 ton itu menabrak sebuah asrama yang dihuni oleh mahasiswa kedokteran dan keluarga mereka.
Dari 242 orang yang berada di dalam pesawat, hanya satu orang yang selamat. Sisanya tewas dalam tragedi yang disebut sebagai salah satu kecelakaan penerbangan paling tragis dalam sejarah India.
Benturan pesawat ke bangunan juga merenggut nyawa beberapa warga sipil. Termasuk diantaranya empat mahasiswa kedokteran, istri seorang dokter yang sedang hamil besar, serta sejumlah buruh dan pedagang di sekitar lokasi.
Pihak otoritas India menolak berspekulasi soal penyebab jatuhnya pesawat Boeing 787-8 Dreamliner tersebut. Namun mereka menegaskan akan menyelidiki segala kemungkinan yang ada.
"Setiap teori yang berkembang akan diperiksa," kata Sinha. Saat ini, tim investigasi telah berhasil mengamankan flight data recorder atau kotak hitam pesawat.
Analisis terhadap kotak hitam tengah dilakukan. Penyelidikan penuh diperkirakan akan rampung dalam waktu tiga bulan.
Menteri Penerbangan Sipil, Ram Mohan Naidu Kinjarapu, menyatakan bahwa decoding dari kotak hitam itu akan menjadi kunci utama untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Untuk membantu proses investigasi, empat pakar kecelakaan penerbangan dari Inggris telah tiba di Ahmedabad pada Jumat malam. Mereka bergabung dengan tim lokal dalam pencarian bukti dan pemulihan korban.
Hingga Sabtu pagi, jumlah korban tewas telah mencapai 279 jiwa. Proses evakuasi masih berlangsung dan satu jenazah baru ditemukan di bawah sayap pesawat.
Keluarga korban terus memadati Rumah Sakit Sipil di Ahmedabad. Banyak dari mereka mengeluhkan keterlambatan proses identifikasi jenazah dan penyerahan kepada keluarga.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
