Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Mei 2025 | 16.49 WIB

Larangan Ekspor Kartu Grafis Nvidia ke Tiongkok Menambah Kekhawatiran Bagi Samsung

CEO Nvidia Jensen Huang, di CES 2025 di Las Vegas (20/3). (Yonhap) - Image

CEO Nvidia Jensen Huang, di CES 2025 di Las Vegas (20/3). (Yonhap)

JawaPos.com - Penghentian ekspor kartu grafis GeForce andalan Nvidia ke Tiongkok, meningkatkan kekhawatiran tentang profitabilitas bisnis memori Samsung Electronics. Kondisi ini memperburuk situasi di tengah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Media teknologi Amerika Serikat, Tom’s Hardware, melaporkan bahwa Nvidia mengonfirmasi GPU RTX 5090D—versi khusus untuk pasar Tiongkok—tidak bisa dipesan pada kuartal kedua tahun ini. Bahkan, semua pesanan yang sedang berlangsung dibatalkan sementara.

Meskipun Nvidia belum memberi pernyataan resmi, sejumlah media menyebut bahwa GPU RTX 5090D masih terlalu canggih dan tetap melanggar aturan ekspor baru dari Amerika Serikat, meski telah diturunkan kemampuannya.

Larangan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap Samsung, karena perusahaan asal Korea Selatan ini merupakan pemasok utama chip memori GDDR7 untuk seri RTX 50.

Nvidia sebelumnya telah mengonfirmasi pada bulan Januari bahwa batch awal kartu seri RTX 50, akan secara eksklusif menggunakan chip memori GDDR7 Samsung.

Pada Maret lalu, CEO Nvidia Jensen Huang bahkan menunjukkan dukungannya terhadap GDDR7 buatan Samsung saat mengunjungi booth Samsung di GTC 2025. Dia menulis chip GDDR7 Samsung: 'SAMSUNG,' 'GDDR7 ROCKS' dan 'RTX ON!'

Isyarat tersebut menggarisbawahi kolaborasi erat antara kedua perusahaan, menyoroti peran penting Samsung dalam jajaran GPU generasi berikutnya dari Nvidia.

Namun, kerja sama keduanya terganggu karena aturan ketat dari Amerika Serikat yang juga melarang pengiriman chip untuk akselerator kecerdasan buatan (AI) ke Tiongkok. Ini termasuk chip H20 buatan Nvidia yang menggunakan chip high-bandwidth memory HBM dari Samsung dirancang untuk aplikasi AI.

Nvidia memperkirakan larangan ini bisa menyebabkan kerugian hingga USD 5,5 miliar (sekitar Rp90,8 triliun) hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2025.

Dikutip dari Korea Times, Samsung sendiri memasok memori HBM3 generasi keempat untuk H20, tetapi tertinggal dari SK Hynix yang sudah memproduksi versi lebih canggih (HBM3E dan HBM4). Sementara itu, pengiriman HBM3 ke Tiongkok juga dihentikan menyusul aturan baru dari Amerika Serikat yang mulai berlaku awal tahun ini.

Reuters melaporkan pada hari Jumat (9/5), bahwa Nvidia berencana untuk merilis versi yang diturunkan dari H20 untuk Tiongkok dalam dua bulan ke depan.

Pejabat industri memperkirakan, bahwa versi yang diturunkan tersebut kemungkinan akan menggunakan GDDR alih-alih HBM untuk menghindari pembatasan Amerika Serikat.

Akibatnya, penjualan GDDR awalnya diharapkan dapat membantu mengimbangi potensi kerugian dari pembatasan ekspor HBM.

Namun, dengan kartu grafis yang kini menghadapi larangan ekspor, muncul kekhawatiran bahwa GDDR juga rentan terhadap risiko regulasi Amerika Serikat.

"Jika larangan penjualan RTX 5090 Nvidia di Tiongkok resmi dikonfirmasi, hal itu dapat mengakibatkan kerugian pada penjualan GDDR7 Samsung."

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore