Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 April 2025 | 23.40 WIB

Profil Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Membawa Semangat Kesederhanaan dan Belas Kasih

Paus Fransiskus menyapa umat dari jendela Rumah Sakit Gemelli, Roma, dalam kemunculan pertamanya sejak dirawat akibat bronkitis dan pneumonia bilateral. (NCRONLINE.ORG) - Image

Paus Fransiskus menyapa umat dari jendela Rumah Sakit Gemelli, Roma, dalam kemunculan pertamanya sejak dirawat akibat bronkitis dan pneumonia bilateral. (NCRONLINE.ORG)

JawaPos.com – Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik ke-266, dikenang sebagai sosok revolusioner yang membawa napas kesederhanaan, kasih, dan reformasi dalam kepemimpinannya. 

Lahir dengan nama Jorge Mario Bergoglio, ia menjadi Paus pertama dari Amerika Latin dan juga anggota Serikat Yesus (Yesuit) pertama yang menduduki Tahta Suci. Ia terpilih pada 13 Maret 2013, menggantikan Paus Benediktus XVI yang mundur secara historis.

Paus yang akrab disapa Pope Francis itu lahir pada 17 Desember 1936 di Buenos Aires, Argentina, dari keluarga imigran Italia. Ia merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Setelah menjalani pendidikan filsafat dan teologi, ia ditahbiskan sebagai imam pada 13 Desember 1969. Ia mengikrarkan kaul kekal dalam Serikat Yesus pada 1973, dan dikenal sebagai sosok yang rendah hati serta dekat dengan kehidupan umat biasa.

Karier rohani Pope menanjak ketika diangkat menjadi Uskup Auksilier Buenos Aires pada 1992, lalu menjabat sebagai Uskup Agung pada 1998. Gelar Kardinal ia terima dari Paus Yohanes Paulus II pada 2001. Semasa menjabat di Argentina, ia dikenal menolak fasilitas mewah, memilih tinggal di apartemen sederhana, dan bepergian dengan transportasi umum.

Sebagai Paus, ia menjalankan visi Gereja yang lebih terbuka, bersahabat dengan kaum miskin, dan berkomitmen pada isu-isu global seperti krisis iklim, perdamaian dunia, serta keadilan sosial. Ia menolak tinggal di Istana Apostolik dan memilih tinggal di Wisma Santa Marta, sebagai simbol komitmennya pada gaya hidup sederhana. Ia juga dikenal karena membuka ruang dialog antaragama dan melunakkan pendekatan Gereja terhadap kelompok-kelompok marginal.

Paus Fransiskus juga giat mendorong reformasi internal Gereja, termasuk dalam hal transparansi keuangan dan penanganan kasus pelecehan seksual. Ensiklik Laudato Si’ (2015) menjadi tonggak penting ajakannya kepada dunia untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Ia juga menerbitkan ensiklik Fratelli Tutti yang menekankan pentingnya persaudaraan umat manusia tanpa batas.

Pada Januari 2025, Paus Fransiskus menerbitkan buku autobiografi berjudul Hope, yang memuat kisah hidup, nilai-nilai, dan refleksinya selama menjadi gembala dunia Katolik. Buku ini dirilis dalam 80 bahasa dan diterbitkan oleh Vatikan sebagai sarana pewarisan semangat pastoralnya.

Paus Fransiskus wafat pada Senin, 21 April 2025 di usia 88 tahun setelah dirawat karena pneumonia ganda. Sosoknya dikenang bukan hanya karena jabatan yang ia emban, tetapi karena warisan nilai yang ia bawa: Gereja yang hadir di tengah umat, penuh kasih, dan terbuka terhadap perubahan zaman. 

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore