Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Desember 2024 | 20.00 WIB

Kaleidoskop 2024: Suhu Terpanas, Bencana Ekstrem Melanda, Tantangan Perubahan Iklim Dunia

Fenomena cuaca ekstrem dan peningkatan suhu yang semakin parah, dampak nyata dari perubahan iklim global. (The Guardian) - Image

Fenomena cuaca ekstrem dan peningkatan suhu yang semakin parah, dampak nyata dari perubahan iklim global. (The Guardian)

JawaPos.com – Tahun 2024 mencatatkan sejarah sebagai tahun dengan suhu rata-rata global terpanas dalam sejarah. Hal ini semakin dipertegas oleh laporan dari Copernicus Climate Change Service (C3S), yang menunjukkan lonjakan suhu global yang signifikan, melebihi rekor sebelumnya.

Perubahan iklim yang terjadi di tahun ini tidak hanya menjadi sorotan para ilmuwan dan pengambil kebijakan, tetapi juga memengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di berbagai belahan dunia.

Fenomena cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas, semakin sering terjadi dengan dampak yang lebih besar. Wilayah yang sebelumnya jarang dilanda bencana alam kini merasakan dampaknya, meningkatkan ketidakpastian cuaca global.

Tantangan terbesar adalah bagaimana dunia dapat bersatu untuk mengatasi masalah ini. Dengan suhu yang terus meningkat, upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan beralih ke energi bersih menjadi kunci untuk mencegah bencana lebih lanjut.

Diulas fenomena cuaca global sepanjang tahun, dampaknya, serta tantangan besar yang dihadapi dunia dalam mengatasi perubahan iklim yang semakin mendesak.

2024 jadi Tahun Terpanas dalam Sejarah

Menurut data terbaru, suhu rata-rata global pada 2024 meningkat 1,62°C di atas suhu rata-rata pra-industri (1850-1900), sebuah lonjakan yang sangat signifikan.

Dr. Samantha Burgess, Wakil Direktur C3S, memperingatkan bahwa tahun ini kemungkinan akan menjadi tahun pertama di mana suhu global melampaui ambang batas 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

Hal ini merupakan patokan penting dalam Perjanjian Paris, yang menunjukkan bahwa upaya pengendalian perubahan iklim harus lebih serius dan ambisius. Kenaikan suhu yang drastis ini membawa dampak yang tak terhindarkan pada es di Kutub Utara dan Selatan.

C3S melaporkan bahwa luas es di Kutub Utara menyusut hingga 19 persen di bawah rata-rata historis, sedangkan es Antarktika mengalami penurunan 8 persen di bawah rata-rata, mencatatkan titik terendah kedua sepanjang sejarah. Dampaknya terasa pada ancaman kenaikan permukaan laut, yang dapat merusak banyak kota pesisir di seluruh dunia.

Banjir Besar di Spanyol, Dampak Nyata Perubahan Iklim yang Makin Ekstrem

Selain peningkatan suhu global, peristiwa cuaca ekstrem kini semakin sering dan intens. Salah satu contoh dramatis adalah banjir besar yang melanda Spanyol pada Oktober 2024.

Bencana ini, yang dilaporkan telah merenggut lebih dari 200 nyawa dan menghancurkan desa-desa, merupakan salah satu contoh nyata dampak dari perubahan iklim. Hujan deras yang tak terduga menyebabkan sungai-sungai meluap, memicu banjir bandang yang melanda berbagai kawasan, terutama di wilayah Valencia.

Badan Meteorologi Dunia (WMO) pada Jumat (1/11) menyatakan bahwa kejadian serupa semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia. Di Eropa dan Mediterania, badai besar dan hujan lebat menjadi fenomena yang lebih sering terjadi, menyebabkan kerugian besar baik dari segi korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.

Clare Nullis, juru bicara WMO, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan dampak nyata dari perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia, khususnya emisi gas rumah kaca yang terus meningkat.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore