
Foto protes Pro-Palestina dari Jerman, Yunani dan Italia (kiri ke kanan). (AP)
JawaPos.com - Aksi demonstrasi atau unjuk rasa pro-Palestina tidak hanya terjadi di negara-negara muslim, tetapi juga negara barat seperti Inggris, Portugal, Spanyol, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.
Teriakan slogan ‘from the river to the sea’ pun terus terdengar sepanjang aksi demo di seluruh penjuru dunia itu.
Para demonstran juga menulis kalimat-kalimat yang sama di sebuah poster dan spanduk lainnya yang mereka bawa.
Diketahui, slogan tersebut diserukan untuk menyuarakan kebebasan rakyat Palestina dari Israel, yang berarti dari sungai hingga laut, Palestina akan merdeka.
Bernyanyi di sepanjang jalan dan membawa bendera Palestina, para demonstran dari seluruh dunia terlihat kompak menyatakan keinginan mereka yakni menghentikan perbuatan Israel yang terus melakukan penindasan di tanah bersejarah Palestina.
Slogan ‘from the river to the sea’ sendiri memiliki sejarah panjang. Saat itu Palestine Liberation Organization (PLO) menyerukan untuk pembentukan negara tunggal yang membentang dari Sungai Yordan hingga Laut Mediterania.
Namun, di tahun 1948, saat negara Israel belum terbentuk, PBB mengajukan rencana pembagian wilayah menjadi tersebut menjadi sebuah negara Yahudi – yang mencakup 62 persen dari mandat Inggris sebelumnya.
Hal tersebut kemudian ditolak oleh pemimpin Arab pada masa itu.
Hal tersebut tak dihiraukan hingga akhirnya lebih dari 750.000 warga Palestina diusir dari rumah merek sendiri. Peristiwa berdarah ini dikenal dengan Nakba atau yang berarti bencana.
Munculnya slogan ‘from the river to the sea’ ternyata memiliki penafsiran berbeda dari kedua negara Israel dan Palestina.
Melansir dari Aljazeera, Dosen Hukum di School of Oriental and African (SOAS) Nimer Sultany, menyatakan bahwa slogan tersebut dibuat sebagai bentuk protes untuk meminta kesetaraan bagi seluruh penduduk di tanah Palestina.
Sedangkan dalam wawancara lainnya, Seorang warga Palestina Sultany menyatakan, bahwa slogan ini mungkin akan dianggap oleh para pendukung Israel dan supremasi Yahudi sebagai nyanyian yang tak pantas.
“ini akan terus menjadi faktor utama permasalahan. Namun seharusnya, warga Palestina berhak untuk hidup dalam kesetaraan, kebebasan dan martabat seperti orang lain,” ungkap Sultany.
Sementara dari pihak lain, para pengamat pro-Israel berpendapat bahwa slogan tersebut memiliki makna mengerikan.
Seorang Profesor Studi Timur dan Yudaisme di Universitas Brandeis, Yehudah Mirsky menyatakan bagi warga Yahudi Israel kalimat ini bermakna akan ada satu entitas dan tidak akan ada negara Yahudi.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
