Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 4 Desember 2023 | 20.26 WIB

Muslim AS Tak Ingin Joe Biden Kembali Terpilih jadi Presiden, Alasannya Terkait Dukungan ke Israel

Presiden Joe Biden dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023. (Evan Vucci/AP file) - Image

Presiden Joe Biden dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Tel Aviv pada 18 Oktober 2023. (Evan Vucci/AP file)

JawaPos.com – Para pemimpin umat Muslim Amerika di beberapa negara bagian pada Sabtu (2/12) telah berjanji untuk mengerahkan komunitas mereka dalam menentang upaya Joe Biden kembali terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Hal tersebut terjadi karena sikap Biden yang begitu teguh dalam memberikan dukungannya terhadap Israel dalam perang Israel-Hamas di Gaza.

Dikutip dari Al Jazeera, kampanye #AbandonBiden dimulai ketika warga Muslim Amerika di Minnesota menuntut Biden menyerukan gencatan senjata pada 31 Oktober silam, dan telah menyebar ke Michigan, Arizona, Wisconsin, Pennsylvania, dan Florida.

"Konferensi #AbandonBiden 2024 ini diadakan dengan latar belakang pemilihan presiden tahun 2024 mendatang dan keputusan untuk menarik dukungan kepada Presiden Biden karena keengganannya menyerukan gencatan senjata dan melindungi orang-orang tak berdosa di Palestina dan Israel," kata kelompok tersebut.

Penentangan dari populasi Muslim dan Arab Amerika yang cukup besar tersebut dapat menimbulkan tantangan terhadap prospek Electoral College presiden pada pemilu mendatang.

Politik AS didominasi oleh dua partai, yaitu Demokrat dan Republik. Namun, kandidat independen juga dapat mencalonkan diri sebagai presiden.

Mantan profesor Harvard dan filsuf kulit hitam terkemuka, Cornel West, yang mencalonkan diri sebagai kandidat independen, menyerukan gencatan senjata di Gaza dan mengutuk pendudukan Israel di Palestina.

Jill Stein, yang ikut serta dalam kelompok Partai Hijau (Green Party), juga menyerukan gencatan senjata di Gaza. Dia adalah kandidat pada tahun 2016 dan juga 2012.

Namun, masuknya sumbangan swasta ke dalam sistem politik Amerika berarti bahwa kandidat independen dengan dana lebih kecil memiliki peluang menang dalam pemilu yang lebih kecil dibandingkan dengan kandidat dari dua partai besar.

Para pejabat AS dan Israel telah menolak untuk menghentikan pertempuran secara permanen. Wakil Presiden AS, Kamala Harris juga telah menegaskan pernyataan Biden bahwa Israel memiliki hak untuk membela diri.

Muslim Amerika mengatakan bahwa mereka tidak mengharapkan mantan Presiden Donald Trump akan memperlakukan komunitas mereka dengan lebih baik jika terpilih kembali. Namun, mereka menganggap penolakan dukungan terhadap Biden sebagai satu-satunya cara mereka untuk membentuk kebijakan AS.

Masih harus dilihat apakah para pemilih Muslim akan menentang Biden secara massal, tetapi perubahan kecil dalam dukungan dapat membuat perbedaan di negara-negara bagian yang dimenangkan Biden dengan selisih tipis pada tahun 2020.

Sebuah survei baru-baru ini mengungkapkan adanya penurunan dukungan terhadap Biden secara signifikan di kalangan Arab Amerika, yang sebelumnya dari kalangan mayoritas besar pada tahun 2020, turun menjadi hanya 17 persen.

Penurunan tersebut berdampak besar di negara-negara bagian, seperti Michigan, dimana Biden memperoleh kemenangan dengan selisih 2,8 poin persentase, dan warga Amerika keturunan Arab hanya menyumbang 5 persen suara. Di kalangan masyarakat umum, survei menunjukkan bahwa sebagian besar warga AS mendukung diakhirinya perang Israel terhadap Palestina.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore