
Beberapa umat Hindu di India ketika merayakan festival keagamaan Hindu, Chhath Puja di Sungai Yamuna yang tengah diselimuti buih pada Senin (20/11). (Sumber: REUTERS/Anushree Fadnavis)
JawaPos.com - Ibu Kota India, Delhi, membuka kembali sekolah-sekolah dan beberapa lokasi pembangunan pada Senin (20/11) di tengah berkurangnya polusi udara.
Ibu kota paling tercemar di dunia ini melanjutkan perjuangannya melawan polusi lewat janji-janji yang dituturkan oleh pemerintah setempat.
Indeks kualitas udara (AQI) pada Senin (20/11) sebesar 336, turun sebesar 509 sejak Kamis (16/11), namun masih dalam kode 'berbahaya', kata kelompok Swiss IQAir.
Anak-anak mengenakan masker dalam perjalanan ke sekolah, setelah ditutup selama hampir dua minggu untuk melindungi mereka dari polusi.
Masalah di Delhi tidak berhenti pada polusi udara, umat Hindu yang merayakan festival Chhath Puja di Sungai Yamuna tampak berjuang di tengah air yang berbusa karena tercemar. Pihak berwenang menyebut air tersebut cukup beracun, dikutip dari Reuters.
Busa tersebut berasal dari lumpur dan limbah yang tidak diolah, kata seorang mantan penasihat pemerintah Delhi, seraya menambahkan bahwa dewan air kota tersebut menyemprotkan bahan kimia food grade untuk mengendalikannya.
"Busa tersebut pada dasarnya tidak mematikan," kata mantan pejabat tersebut, Ankit Srivastava, seorang insinyur lingkungan.
"Kamu tidak akan mati karena mengkonsumsinya, tapi kamu akan jatuh sakit," lanjutnya.
Pada Minggu (19/11), Menteri Lingkungan Hidup Delhi, Gopal Rai mengatakan kepada wartawan bahwa pekerjaan konstruksi pada proyek infrastruktur publik dapat dilanjutkan, meskipun dengan pembatasan aktivitas untuk mencegah buruknya kualitas udara di Delhi.
AQI Delhi diperkirakan akan turun dalam dua hari ke depan karena kecepatan angin diperkirakan meningkat, menurut sistem peringatan dini pemerintah untuk kualitas udara.
Polusi udara di Delhi menjadi lebih buruk pada musim dingin, ketika kecepatan angin menurun dan udara dingin memerangkap polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan, industri, dan petani yang membakar limbah pertanian di negara bagian sekitar untuk mempersiapkan penanaman baru.
Emisi lalu lintas merupakan kontributor besar pada Senin (20/11). Kendaraan bermotor menyumbang partikel berukuran 2,5 mikrometer (PM2.5) yang melayang di udara, berdasarkan studi real-time yang dilakukan oleh para ahli yang bekerja sama dengan pemerintah Delhi.
Kendaraan menyumbang 51 persen partikel tersebut, yang dianggap sangat berbahaya bagi manusia, di sepanjang jalan raya utama, naik dari tingkat 27 persen dan 32 persen selama dua hari terakhir, tambah studi tersebut.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
