
Louise Gluck, penyair pemenang Hadiah Nobel Sastra 2020 telah berpulang. (Sumber: Nobel Prize/Daniel Ebersole)
JawaPos.com - Louise Gluck, seorang penyair ternama yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra 2020, meninggal dunia pada usia 80 tahun, dilansir dari media di Amerika Serikat pada Jumat (13/10).
Puisinya dikenal dengan keterbukaan dalam eksplorasi tentang keluarga dan masa kanak-kanak dengan 'suara yang jelas' dan 'keindahan yang luar biasa', kata Akademi Swedia, yang bertanggung jawab untuk memilih pemenang hadiah sastra, ketika menganugerahinya Hadiah Nobel.
Puisi-puisi Louise sering kali memiliki kalimat-kalimat yang tidak begitu banyak, kurang dari satu halaman. Seperti 'The Red Poppy' dari karya 'The Wild Iris' yang memiliki 20 baris kalimat seperti yang dicantumkan di situs Nobel Prize.
Dalam penulisan puisi, Akademi menganggap karya Gluck mirip dengan penyair Amerika Serikat abad ke-19, Emily Dickinson dalam hal 'ketegasan dan keengganannya untuk menerima prinsip iman yang sederhana'.
Penyebab kematiannya telah dikonfirmasi oleh Jonathan Galassi, editornya di Farrar, Straus, & Giroux. Sementara teman dan mantan koleganya di jurusan Bahasa Inggris di Yale, Richard Deming mengatakan penyebab kematian Louise karena kanker yang dideritanya, sesuai dengan pemaparan yang dikutip dari New York Times.
Louise Gluck secara luas dianggap sebagai salah satu penyair terbesar abad ini, jauh sebelum dia memenangkan Nobel. Ia mulai menerbitkan bukunya pada 1960-an dan mendapat pujian pada tahun 70-an, namun ia mengokohkan reputasinya di tahun 80-an dan awal 90-an dengan serangkaian buku.
Sebagai seorang profesor Bahasa Inggris di Universitas Yale, Gluck pertama kali mendapat pujian kritis dengan kumpulan puisinya pada 1968 yang berjudul 'Firstborn', dan kemudian menjadi salah satu penyair dan penulis esai paling terkenal di Amerika.
Berbagai macam karyanya telah memenangkan banyak penghargaan, 'Triumph of Achilles' (1985) telah memenangkan National Book Critics Circle Award. Lalu ada 'Ararat' (1990), dan 'The Wild Iris' (1992) yang memenangi Hadiah Pulitzer.
Di masa hidupnya, Gluck dua kali bercerai dan menderita anoreksia ketika masih muda. Ia kerap mengeksplorasi tema-tema universal yang disukai pembaca di Amerika Serikat dan luar negeri.
Dia menjabat sebagai Penyair Amerika Serikat pada 2003-2004 dan dianugerahi Medali Humaniora Nasional oleh Presiden Barack Obama pada 2016.
Semasa hidupnya, ia menerbitkan 12 kumpulan puisi dan beberapa esai.
Lahir di New York, Gluck menjadi wanita ke-16 yang memenangi Hadiah Nobel Sastra, penghargaan paling bergengsi di dunia sastra.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
