
Suasana di sebuah pelabuhan peti kemas di Tiongkok.
JawaPos.com – Untuk kali pertama, Tiongkok mengalami deflasi dalam kurun dua tahun terakhir. Biro Statistik Nasional kemarin (9/8) mengungkapkan, indeks harga konsumen turun 0,3 poin pada Juli jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.
Namun, indeks itu naik 0,2 persen jika dibandingkan dengan Juni.
Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Yakni, terjadinya penurunan harga-harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Sekilas, deflasi terlihat bagus bagi konsumen.
Namun, efek domino yang ditimbulkan bisa berdampak serius. Sebab, jika deflasi terus-menerus terjadi, produsen dan penyedia jasa merugi karena tidak mampu menutup biaya produksi. Imbasnya, bisa terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Perekonomian Tiongkok pascapandemi memang belum pulih betul. Sehari sebelumnya, Biro Statistik Nasional merilis data yang menunjukkan impor dan ekspor negara itu turun lebih tajam daripada yang diperkirakan pada Juli. Sebab, permintaan global untuk produk Tiongkok berkurang.
Saat ini pedagang ritel atau pengecer telah terkena perlambatan penjualan. Para pedagang, yang menimbun barang dan mengharapkan lonjakan permintaan setelah pembatasan pandemi dicabut, kini berada di bawah tekanan untuk memangkas harga agar barang mereka cepat keluar.
Harga mobil juga ikut turun. Perang harga mobil terjadi setelah Tesla memangkas harga penjualannya. Imbasnya, mobil lain juga ikut menurunkan harga. Pabrik-pabrik di Tiongkok juga sudah menerapkan biaya lebih rendah untuk barang-barang mereka. Kebijakan tersebut merupakan reaksi atas melemahnya permintaan setelah harga komoditas turun.
Financial Times mengungkapkan, pihak berwenang Tiongkok dilaporkan telah menekan para ekonom lokal yang terkenal agar menghindari diskusi tren negatif dalam ekonomi, termasuk deflasi. Pemerintah telah menetapkan target inflasi konsumen sekitar 3 persen tahun ini. Mereka memberikan berbagai stimulus agar targetnya tercapai.
Namun, terlepas dari kebijakan stimulus tersebut, konsumen maupun produsen masih berhati-hati di tengah situasi tingginya angka pengangguran kaum muda, lemahnya pasar perumahan, dan berkurangnya minat perusahaan asing untuk berinvestasi di Tiongkok.
Situasi di Tiongkok saat ini kian sulit karena hubungan dengan Amerika Serikat (AS) memanas. Washington berkali-kali membatasi berbagai ekspor ke Beijing. Kemarin pemerintah AS berencana membuat aturan baru yang membatasi investasi AS dalam industri teknologi canggih ke Tiongkok.
Upaya itu dilakukan untuk melindungi keamanan nasional serta mencegah pengetahuan dan uang AS mengalir ke Tiongkok. Juga memperketat jumlah teknologi mutakhir yang tersedia bagi militer Tiongkok.
Pada Oktober tahun lalu, pemerintahan Presiden AS Joe Biden juga meluncurkan serangkaian kontrol ekspor yang melarang perusahaan Tiongkok membeli cip canggih dan peralatan pembuat cip tanpa lisensi. Kebijakan terbaru kali ini diyakini bakal membuat pemerintah Tiongkok berang.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
