Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Februari 2022 | 01.18 WIB

Rusia Menarget Chernobyl, Netizen Khawatir Tragedi Nuklir Terulang

Kawasan Chernobyl. (REUTERS/Gleb Garanich). - Image

Kawasan Chernobyl. (REUTERS/Gleb Garanich).

JawaPos.com - Jika pernah menonton kisah tentang Chernobyl, kalian akan tahu betapa mencekamnya kejadian yang mengisahkan tentang meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN di Ukraina pada akhir tahun 80-an lalu itu. Kini, setelah invasi dan serangan Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2) lalu, beredar kabar bahwa militer Rusia mengambil alih Chernobyl.

Pasukan Rusia dilaporkan bergerak ke dekat Chernobyl dan membawa ketakutan tersendiri khususnya bagi netizen yang mengetahui tragedi tersebut. Dikutip dari Reuters, ihwal pasukan Rusia yang berusaha masuk ke kawasan terlarang Chernobyl telah dibenarkan oleh penasihat kantor kepresidenan Ukraina, Mykhailo Podolyak.

"Mustahil untuk mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl aman setelah serangan yang sama sekali tidak berguna oleh Rusia," katanya membenarkan.

Podolyak menegaskan, pasca serangan ke Ukraina, merangseknya militer Rusia ke kawasan Chernobyl adalah bentuk ancaman serius bagi mereka dan negara-negara lainnya di Eropa. Chernobyl sendiri sampai saat ini tidak ditinggali manusia karena radiasi yang masih tinggal di wilayah tersebut.

"Ini adalah salah satu ancaman paling serius di Eropa saat ini," tegas Podolyak.

Sebarapa bahayanya jika Chernobyl jatuh dan dimanfaatkan oleh Rusia?

Dikutip dari TheVerge, meski skenario terburuk mungkin tak akan terjadi, konflik yang berlangsung di Ukraina diperkirakan membuat lokasi sensitif ini bakal makin sulit dikelola. Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, reaktor nuklir seberat 200 metrik ton di ruangan pembangkit tersebut merupakan bahan radioaktif berkapasitas tinggi dan masih tersimpan di sisa-sisa reaktor yang meledak pada 1986 lalu.

Saat itu, reaktor Chernobyl gagal dalam uji coba, sehingga melepaskan partikel radioaktif dalam ledakan dan kebakaran. Dalam tragedi tersebut, 50 orang tewas sebagai akibat langsung dari insiden.

Laporan PBB pada 2005 menyebut, puluhan ribu orang mungkin terkena dampak radiasi dan sampai saat ini masih menjadi area terlarang. Guna mencegah penyebaran bahan radioaktif, waktu itu tim membangun kotak menyerupai sarkofagus untuk mengubur sisa-sisa reaktor.

Satu dekade kemudian, para pejabat memutuskan membangun kubah penutup dari material baja agar lokasi ini lebih aman. Fisikawan dan co-direktur Program Kebijakan Nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, James Acton pun memberikan penjelasan.

Jika struktur tersebut rusak dan ada ledakan di dalamnya, maka hal ini bisa membangkitkan bahan radioaktif yang tersisa dan melepaskan emisi radioaktif. Hal inilah yang dikhawatirkan jika Rusia menduduki kawasan sensitif di Chernobyl.

"Tong tidak dirancang untuk menahan serangan, meski begitu tong penyimpanan tersebut sangat kuat dan kokoh. Namun jika rusak, tong-tong ini bisa melepaskan bahan radioaktif," kata Acton.

Kerusakan tersebut dinilai bisa menimbulkan kecelakaan dan merusak kubah penahan, yang sebenarnya dirancang untuk bisa menahan tornado sekalipun. Kekhawatiran terbesar lainnya terletak pada bahan bakar bekas tiga reaktor lainnya yang dinonaktifkan di Chernobyl.

Bahan bakar bekas dari reaktor tersebut sangat bersifat radioaktif meski sudah diasingkan di dalam kubah raksasa. Karena bahan bakar belum lama ini dikeluarkan dari reaktor, potensi bahaya yang ada di Chernobyl tetap sangat berbahaya.

Acton menyebut, hingga kini belum pernah ada kecelakaan serius yang melibatkan bahan bakar bekas reaktor. Namun jika terjadi sesuatu dan menyebabkan kolam pendingin yang kurang terlindungi itu rusak dan terkuras, maka bahan bakar yang tersisa dapat meleleh.

Bahan bakar yang tersisa mampu melepaskan gas serta partikel radioaktif dan berpotensi menyebar ke wilayah lainnya di Ukraina dan bahkan negara di sekitarnya. Acton menyebut, skenario terburuk ini mungkin tidak terjadi.

"Paling tidak karena Rusia tidak memiliki alasan yang masuk akal untuk menyerang reaktor," tegas Acton.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore