
SERANGAN UDARA: Asap membubung dari bekas serangan udara Israel di Rafah, bagian selatan Jalur Gaza, kemarin (19/5). (SAID KHATIB/AFP)
JawaPos.com – Hari ini seharusnya Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan Hamas berhenti saling serang. IDF dan Hamas juga pada prinsipnya setuju untuk mengadakan gencatan senjata. Namun, perinciannya masih dirundingkan secara rahasia.
Itu berdasar sumber-sumber di militer Israel dan Mesir yang dikutip Haaretz, media terpandang di Israel yang dikenal kritis terhadap pemerintahan Negeri Zionis itu. Tapi, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.
PM Israel Benjamin Netanyahu bahkan sekali lagi menegaskan bahwa Israel tidak memiliki jangka waktu kapan akan berhenti menyerang Jalur Gaza.
’’Kami ingin mencapai tujuan operasi. Operasi sebelumnya berlangsung lama sehingga tidak mungkin menetapkan jangka waktu,’’ tegasnya dalam sebuah tanya jawab dengan para diplomat asing serta jurnalis kemarin.
IDF menjatuhkan bom sejak dini hari kemarin (19/5) di Jalur Gaza. Sebanyak empat orang dilaporkan meninggal dunia, salah satunya adalah jurnalis. Al Jazeera melaporkan bahwa pada Selasa malam (18/5), dalam 25 menit, pasukan Negeri Yahudi itu telah menjatuhkan setidaknya 122 bom.
Di saat yang bersamaan, sekutu Netanyahu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, kembali menekannya agar mengurangi ketegangan. AS menuai sorotan baru-baru ini karena terkesan membiarkan tindakan beringas Israel.
’’Presiden (Biden) menyampaikan kepada PM bahwa dia mengharapkan penurunan ketegangan yang signifikan hari ini (kemarin, Red) untuk menuju gencatan senjata,’’ ujar Juru Bicara Gedung Putih Karine Jean-Pierre seperti dikutip NPR. Setidaknya 219 warga Palestina tewas sejak IDF membombardir Gaza 10 hari lalu.
Di sisi lain, Juru Bicara Hamas Hazem Qassam menyatakan bahwa pihak-pihak yang ingin mengembalikan ketenangan harus memaksa Israel mengakhiri agresi di Jerusalem dan pengeboman di Gaza. Jika itu terjadi, baru ada ruang untuk membicarakan tentang perdamaian.
Perang yang terjadi kali ini adalah imbas dari insiden serangan yang terjadi di wilayah pendudukan Jerusalem Timur. Yaitu, di permukiman warga Palestina di Shaikh Jarrah serta Masjidilaqsa.
Saat ini hampir 450 gedung di Gaza rusak parah karena serangan Israel. Enam di antaranya adalah rumah sakit dan sembilan lainnya pusat kesehatan. Lebih dari 52 ribu penduduk Palestina mengungsi.
Hareetz mengungkapkan Israel menggunakan taktik yang sama dengan pertempuran 2014 lalu. Mereka dengan sengaja menghancurkan rumah penduduk dan menewaskan semua orang di dalamnya. Beberapa keluarga habis tak bersisa.
Seharusnya sebelum bom dijatuhkan, penduduk diberikan peringatan lebih dulu. Namun kenyataannya, peringatan itu tidak ada sama sekali. Atau biasanya IDF sengaja menelepon tetangga atau saudara dari penghuni rumah yang akan dihancurkan. Mereka hanya memberikan waktu 10-20 menit pada orang yang ditelepon untuk memperingatkan kerabatnya yang akan dijatuhi bom.
MEMBOMBARDIR: Pasukan artileri Israel mengerahkan tembakan ke Jalur Gaza kemarin. Sekitar 450 gedung di Gaza rusak parah akibat serangan Israel. (JACK GUEZ/AFP)
MEMBOMBARDIR: Pasukan artileri Israel mengerahkan tembakan ke Jalur Gaza kemarin. Sekitar 450 gedung di Gaza rusak parah akibat serangan Israel. (JACK GUEZ/AFP)
Kementerian Dalam Negeri Palestina selalu menyerahkan informasi kependudukan secara berkala pada Israel. Semua data penduduk Palestina ada di tangan Kementerian Dalam Negeri Israel. Mulai nama, usia, keluarganya dan juga alamat lengkapnya. Itu dilakukan agar mereka mendapatkan kartu identitas jika ingin melewati perbatasan yang dijaga Israel.
Itu menunjukkan fakta bahwa sejatinya tentara Israel memiliki nomer telepon tiap keluarga di Gaza. Namun, alih-alih menelepon pemilik gedung, mereka memilih menelepon orang lain untuk memperingatkan. Itu membuat proses evakuasi hampir tidak mungkin dilakukan sebelum bom dijatuhkan.
Baca juga: Bela Palestina, OKI Serukan Gencatan Senjata
"Memusnahkan seluruh keluarga dalam pengeboman Israel adalah salah satu karakteristik perang pada tahun 2014," bunyi laporan Hareetz.
Kala itu, selama serangan 50 hari Israel telah mengapuskan 142 keluarga yang di dalamnya ada 742 orang. Teknik ini yang dipakai lagi oleh Israel.

Prediksi Skor Amerika Serikat vs Bosnia dan Herzegovina di Piala Dunia 2026: The Stars and Stripes Tak Ingin Malu!
Prediksi Skor Swiss vs Aljazair di Piala Dunia 2026: Granit Xhaka Cs Siap Libas El Khadra Demi Tiket 16 Besar
Prediksi Skor Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026: Lamine Yamal Jadi Pembeda
Prediksi Skor Belgia vs Senegal di Piala Dunia 2026: Setan Merah Emoh Angkat Koper Lebih Dulu!
Brasil vs Norwegia: Memori 1994 dan 1998, Misi Balas Dendam Generasi Emas Erling Haaland di Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di 32 Besar Piala Dunia 2026: Joao Felix Pede Singkirkan Skuad Vatreni!
Prediksi Skor Inggris vs RD Kongo: Bursa Jagokan Three Lions, Opta Beri Peluang Menang 73,9 Persen
Silaturahmi dengan Suporter PSIS, Malut United Pastikan Tak Pakai Nama Semarang dan Siap Mengalah soal Stadion
Ditunggu Saja! Persebaya Surabaya Siapkan 7 Pemain Asing Baru Usai Rombak Skuad Musim Lalu
Prediksi Skor Portugal vs Kroasia di Piala Dunia 2026: Misi Berat Cristiano Ronaldo Cs Lolos ke 16 Besar
