Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Januari 2019 | 00.58 WIB

Perjuangan Terjal Perempuan Iran Raih Kebebasan

Masih Alinejad telah membayar mahal perjuangannya untuk menanggalkan jilbabnya dan menjadi kritikus bagi negaranya, yaitu Iran - Image

Masih Alinejad telah membayar mahal perjuangannya untuk menanggalkan jilbabnya dan menjadi kritikus bagi negaranya, yaitu Iran

JawaPos.com - Masih Alinejad telah membayar mahal perjuangannya untuk menanggalkan jilbabnya dan menjadi kritikus bagi negaranya, yaitu Iran. Dia dijatuhi hukuman penjara, melarikan diri dari Iran dan tidak dapat melihat keluarganya. Ia mengungkapkan impiannya agar perempuan Iran memiliki pilihan untuk mengenakan jilbab atau tidak.


Sejak remaja, Masih telah menjadi duri bagi para ayatullah yang memerintah Iran. Dia mengeluh dan memprotes berbagai aturan yang mengekang perempuan.


Ketika dia berusia 19 tahun, dia ditangkap karena aktivitas antipemerintah oleh polisi moral Iran, ditahan di penjara tanpa dakwaan. Masih adalah mimpi buruk bagi Pemerintah Iran. “Saya memiliki terlalu banyak rambut, terlalu banyak suara dan terlalu perempuan untuk mereka,” ujar Masih.


Dalam bukunya, The Wind in My Hair, Masih menjelaskan bahwa gadis-gadis di negaranya dibesarkan untuk menundukkan kepala, tidak banyak bicara, dan menjadi lemah lembut. Namun Masih tidak bisa seperti itu.


Masih dibesarkan dalam kemiskinan di pedesaan, di desa kecil Ghomikola di Mazandaran di Iran utara. Sifatnya yang suka kebebasan menjadikannya fenomenal.


Ayahnya adalah seorang pedagang di jalanan, ibunya orang yang tidak bisa membaca atau menulis. Mereka membesarkan enam anak di sebuah rumah dengan satu kamar yang berfungsi sebagai tempat tidur, makan, dan tempat tinggal.


Masih berusia dua tahun ketika revolusi 1979 terjadi. Shah digulingkan dan Ayatollah Khomeini kembali dari pengasingan untuk memimpin Iran.


Sejak saat itu, kata Masih, semuanya berbeda. “Melihat foto-foto keluarga saya sebelum revolusi, Anda melihat ibu saya mengenakan rok dan syal, dan ayah saya hanya memiliki sedikit janggut.


Tetapi setelah Khomeini kembali, pria dilarang mencukur sehingga janggut ayahnya tumbuh besar dan ibuku harus sepenuhnya ditutupi oleh cadar yang gelap. Semua orang tampak sengsara setelah revolusi, wajah-wajah segar dan bahagia seperti wajah ibuku sebelumnya harus ditutupi dan terlihat sedih.


Ironisnya, orangtua Masih adalah pendukung revolusi yang berdedikasi. Mereka miskin, mereka menginginkan pekerjaan yang lebih baik, mereka menginginkan peluang yang lebih besar untuk kesetaraan, dan mereka pikir revolusi akan membawa perubahan ini. Tetapi sebelum revolusi ada kebebasan sosial, perempuan diizinkan untuk berpartisipasi secara setara dalam banyak kehidupan. sebelum revolusi, mereka bisa berolahraga, bisa pergi ke gym, ada hakim perempuan.


Orang-orang yang mendukung revolusi menginginkan kebebasan politik, dan mereka tidak mendapatkan itu. Selain itu mereka malah kehilangan kebebasan sosial mereka.


Sejak usia tujuh tahun, hukum di Iran menyebutkan, perempuan harus mengenakan jilbab. Masih memprotes aturan itu dengan tidak menggunakannya.


Di sekolah dia terlibat dalam gerakan protes bawah tanah; segera setelah bertunangan, berusia 18 tahun, ia menikah dengan aktivis lain, keduanya ditangkap. "Itu adalah hal paling menakutkan yang pernah terjadi pada saya," katanya.


Begitu menikah, Masih kemudian hamil.  Lalu dijebloskan ke penjara karena menjadi aktivis.


Akhirnya, Masih dijatuhi hukuman lima tahun penjara dan 74 cambukan. Hukumannya ditangguhkan selama tiga tahun. Ketika putranya Pouyan masih kecil, suami Masih, Reza memutuskan untuk menceraikannya.

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore