Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Desember 2018 | 22.03 WIB

Mahathir Kurangi Pelajaran Agama Islam di Sekolah, Ini Alasannya

Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan, kurikulum sekolah nasional di Malaysia akan dirombak. Hal itu dilakukan karena menurutnya, sekolah-sekolah sekarang lebih menekankan mata pelajaran soal Islam dan tidak dengan mata pelajaran lainnya - Image

Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan, kurikulum sekolah nasional di Malaysia akan dirombak. Hal itu dilakukan karena menurutnya, sekolah-sekolah sekarang lebih menekankan mata pelajaran soal Islam dan tidak dengan mata pelajaran lainnya

JawaPos.com - Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengatakan, kurikulum sekolah nasional di Malaysia akan dirombak. Hal itu dilakukan karena menurutnya, sekolah-sekolah sekarang lebih menekankan mata pelajaran soal Islam dan tidak dengan mata pelajaran lainnya, seperti bahasa Inggris.


Menurutnya, keseimbangan ini penting dilakukan agar nantinya para siswa bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. "Mereka semua belajar tentang agama Islam dan tidak belajar hal lain," katanya dilansir dari Straits Times.


"Akibatnya, mereka yang lulus di sekolah tidak terlalu fasih dengan mata pelajaran yang berguna bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi mereka jadi ulama yang sangat baik," tambahnya.


Rencananya ini jelas akan menimbulkan perdebatan di negara konservatif tersebut. Apalagi, pada pemerintahan sebelumnya Malaysia menjalankan saluran TV yang memunculkan ulama konservatif.


Namun, Mahathir mengatakan, apa yang dia lakukan semata-mata agar anak-anak di Malaysia bisa mendapat kehidupan yang lebh baik.


Sistem sekolah dasar Malaysia dibagi menjadi sekolah-sekolah nasional yang dihadiri oleh sebagian besar Muslim Melayu. Sementara sebagian besar etnis Tiongkok dan India bersekolah di sekolah-sekolah bahasa Cina dan Tamil.


Mahathir menjelaskan, dia ingin mengurangi pengajaran mata pelajaran yang terkait dengan Islam di sekolah-sekolah nasional.


"Kami akan mengubah jadwal dan kurikulum di sekolah-sekolah, kami masih akan belajar agama, tetapi tidak semua periode dalam satu hari, mungkin satu atau dua periode dalam seminggu," katanya.


"Jika kita ingin maju, orang Malaysia harus berpendidikan, tidak hanya dalam membaca Quran, tetapi juga dalam bahasa lain. Jika tidak, kita akan menjadi sangat terbelakang."

Editor: Dyah Ratna Meta Novia
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore