
Malala Yousafzai, Pejuang Hak Pendidikan Wanita dari Lembah Swat
JawaPos.com - Lima tahun yang lalu, Malala Yousafzai mengira hidupnya akan berakhir. Setelah gadis yang kini berusia 20 tahun itu ditembak di kepalanya oleh pasukan Taliban karena menyerukan pendidikan untuk perempuan di Pakistan.
Namun siapa kira, hari itu setelah melalui serangkaian operasi yang rumit, Malala kembali hidup membawa takdirnya yang lain. Takdir sebagai perempuan yang tidak hanya menyerukan pendidikan untuk kaumnya, namun juga hak mendasar yang seharusnya diperoleh oleh perempuan.
Malala yang kini sedang menempuh pendidikan di Oxford University tersebut dikenal setelah dia menjadi orang termuda yang memenangkan hadiah Nobel Perdamaian pada 2014.
Sebelumnya pada 2013, dia dinobatkan sebagai salah satu dari orang-orang paling berpengaruh dalam majalah TIME. Pada tahun yang sama, dia memenangkan penghargaan Sakharov dari Parlemen Eropa untuk Freedom of Thought dan merilis otobiografinya 'I Am Malala' yang kini sudah beredar luas di dunia.
"Saya bangga menjadi orang Pashtun (salah satu suku di Pakistan) pertama yang memenangkan Nobel, dan mungkin saya adalah pemenang Nobel pertama yang masih punya kebiasaan bertengkar dengan adik saya," ucapnya lugu saat menerima penghargaan tersebut di Oslo, Norwegia.
Sebenarnya, Malala sudah lama memikirkan nasib kaumnya. Saat berusia 11 tahun, Malala menulis buku harian dengan nama Gul Makai, yang merupakan nama pahlawan wanita dari cerita rakyat Pashtun. Dia menuliskan kegundahannya sebagai seorang gadis yang mendambakan pendidikan. Juga tak hanya untuk dia, tapi juga gadis-gadis di usianya saat itu.
Pasukan militan Taliban menghancurkan sejumlah sekolah perempuan pada saat Taliban memegang kekuasaan di Lembah Swat, daerah tempat tinggal Malala. Mereka mengacuhkan pendidikan perempuan, dan itu yang menjadi perhatian utama Malala.
Pada Januari 2009, saat sekolah tutup untuk liburan musim dingin, Malala menulis, "Gadis-gadis itu tidak terlalu senang dengan liburan karena mereka tahu jika Taliban menerapkan keputusan untuk melarang pendidikan anak perempuan, mereka tidak akan bisa masuk sekolah lagi. Saya berpandangan bahwa suatu hari sekolah akan dibuka kembali, tapi saat meninggalkan sekolah, saya melihat bangunan itu seolah-olah mengetahui kalau saya tidak akan datang lagi ke sini."
Malala juga mendeskripsikan kecemasan yang dia dan teman-temannya rasakan saat mereka melihat siswa turun dari kelas karena takut menjadi sasaran pasukan Taliban. Apalagi ketika anak-anak mulai bersekolah dengan pakaian biasa yang tidak seragam, supaya tidak menarik perhatian pada gerilyawan pada anak perempuan yang bersekolah.
Namun untungnya, Malala secara konsisten mendapat dukungan dan dorongan dari orang tuanya. Gagasan untuk menulis lewat blog didukung penuh oleh sang ayah, Ziauddin, yang merupakan pengelola sekolah swasta.
Dalam sebuah profil panjang yang diterbitkan di majalah Vanity Fair, seorang guru dari Lembah Swat mengatakan bahwa ayahnya selalu mendorong Malala untuk berbicara dengan bebas dan mempelajari semua yang dia bisa.
Identitasnya sebagai gadis blogger dari Lembah Swat akhirnya dikenal saat ia menjadi lebih vokal dalam hal hak anak perempuan terhadap pendidikan. Ini adalah topik yang membuat Malala tidak pernah berhenti untuk menyerukannya, bahkan setelah dia kembali ke rumah setelah insiden penembakan kepalanya.
Pada 2009 sebuah film dokumenter tentang dirinya dibuat. Banyak penghargaan yang diraihnya. Pada 2011 dia dinominasikan untuk mendapat Hadiah Perdamaian Anak Internasional oleh The Kids Rights Foundation. Pada 2012 pemerintah Pakistan memberinya Penghargaan Perdamaian Nasional.
Pada tahun 2017, Malala diterima kuliah di jurusan Politik, Filsafat, dan Ekonomi di Oxford's Lady Margaret Hall. Selain belajar di kampus, Malala juga melanjutkan kampanyenya keliling dunia.
Dana yang diberikan atas namanya digunakannya untuk membantu pendidikan anak-anak di seluruh dunia. Malala pergi ke Nigeria, bertemu dengan mantan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan untuk menuntut pembebasan 200 gadis yang ditangkap oleh pasukan oposisi Nigeria Boko Haram.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
