Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Desember 2017 | 02.08 WIB

Fotografer Belgia Rela Habiskan Dua Tahun Bersama Yakuza

Yakuza - Image

Yakuza

JawaPos.com - Seorang fotografer Belgia, Anton Kusters memotret kehidupan sehari-sehari anggota sindikat Yakuza. Sindikat kejahatan terorganisir di Jepang tersebut terkenal dengan kebrutalan, tato, dan kode kehormatan mereka yang sangat ketat.


Kusters menghabiskan dua tahun hidup bersama sindikat Yakuza yang ditakuti di Tokyo. Ia diberi akses khusus ke lingkaran dalam rahasia mereka. Seringkali ia menyaksikan kekerasan di lingkungan Yakuza.


Sindikat Yakuza berawal dari penipuan dan taruhan ilegal dalam kelas sosial terendah pada tahun 1600-an. Mereka terus berkembang menjadi salah satu sindikat kejahatan terorganisir paling mematikan dan paling kaya di dunia.


Sekarang Yakuza menghasilkan miliaran poundsterling dalam setahun dari perdagangan senjata, pelacuran, perjudian ilegal, dan pemerasan. Dikenal karena kebrutalan mereka, para anggotanya sering menghiasi tubuh mereka dengan tato yang rumit dan artistik.


Mereka juga akan memotong jari mereka sendiri sebagai permintaan maaf karena menyinggung pemimpin mereka. Selain itu juga untuk menunjukkan kesetian mereka.


Terdapat sekitar 100 ribu anggota Yakuza di Jepang. Saat seseorang memutuskan masuk menjadi anggota sindikat Yakuza, ia akan dibawa ke lokasi rahasia dimana mereka dilatih bertarung dan meditasi.


Lebih dari 3.000 anggota sindikat Yakuza terbesar di Jepang baru-baru ini meninggalkan   sindikatnya. Ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadi perang antar sindikat Yakuza di Kota Kobe barat. Pada tahun 1980-an, setidaknya 500 orang ditangkap dan 20 orang terbunuh saat perang antar geng Yakuza berlangsung tak terkendali.


Melalui bukunya 'Odo Yakuza Tokyo', Kusters menceritakan bagaimana dua tahun hidup bersama keluarga sindikat Yakuza di Tokyo.


"Saya pertama kali melihat seorang anggota Yakuza berjalan-jalan di Kabukicho, Tokyo. Saat itu saya sedang duduk di sebuah bar, meminum bir, dengan saudara laki-laki saya," kata Kusters seperti dilansir Daily Mail.


Kala itu, terang Kusters, ia dan kakaknya memiliki pemikiran yang sama tentang Yakuza. Menurutnya Yakuza adalah gangster bertato, berlarian dengan pedang dan senjata, saling membunuh setiap ada kesempatan.


Namun rupanya pikiran mereka berdua langsung buyar. Anggota Yakuza yang mereka lihat jauh berbeda dari bayangan. Mereka berpakaian rapi, bersikap sopan, dan penuh percaya diri.


Dia berjalan seolah-olah ia yang memiliki jalan itu. Orang lain membungkuk dan menyapanya di sepanjang jalan. "Kami berbicara dengannya, dan namanya adalah Souichirou."


Beberapa saat kemudian, dia tersenyum saat Kusters mengajukan pertanyaan langsung kepadanya. Rupanya Souichirou adalah bos jalan di wilayah yang dikontrol keluarganya. Ia memiliki kantor di sana. "Kami jarang melakukan pembunuhan lagi sekarang," kata Souichirou menekankan.


Kusters lalu bertanya, apakah ia diijinkan memotret Souichirou dan keluarganya dalam jangka panjang. Rupanya ia setuju untuk memulai negosiasi dengan Kusters.


Membutuhkan sekitar satu tahun untuk mengadakan pertemuan intens demi mendapatkan izin. Akhirnya, pada tahun 2009 ia mendapatkan kesempatan untuk memotret kehiduan para Yakuza.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore