JawaPos Radar

Khashoggi dan Kartu Truf Turki

Oleh Bernando J. Sujibto*)

16/10/2018, 11:50 WIB | Editor: Ilham Safutra
Khashoggi dan Kartu Truf Turki
Jamal Khashoggi (AFP/Getty Images))
Share this

JawaPos.com - Belum usai kabar mata uang lira yang anjlok terhadap dolar Amerika Serikat sejak Agustus silam, Turki kembali jadi sorotan dunia. Itu setelah Jamal Khashoggi dinyatakan hilang sejak 2 Oktober 2018.

Wartawan dan penulis kesohor asal Arab Saudi itu ditengarai dibunuh saat berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

Dengan tujuan untuk melengkapi dokumen-dokumen pernikahan bersama tunangannya, Hatice Cengiz. Sebelum masuk ke konsulat, Khashoggi sudah berpesan kepada Hatice, jika terjadi apa-apa terhadap dirinya, tunangannya itu diminta langsung menghubungi Yasin Aktay (sosiolog dan penasihat partai penguasa, AKP) serta Asosiasi Media Arab-Turki.

Sebelum menyebar rekaman CCTV yang menangkap detik-detik masuknya Khashoggi ke konsulat, sikap Turki dalam kasus ini sudah jelas. Bahwa investigasi yang komprehensif harus dilakukan.

Juru Bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mempertegas bahwa menurut data yang mereka punya, Khashoggi masih berada di dalam konsulat. Artinya, narasi yang terbangun dan bisa dikenali secara umum menunjukkan bahwa Khashoggi hilang sejak masuk ke konsulat.

Melihat sikap awal yang ditunjukkan Turki, tersurat jelas sebuah pesan yang intinya otoritas internal konsulat dan pemerintah Arab Saudi harus bertanggung jawab. Itu sejalan dengan tekanan publik internasional yang menuding Arab Saudi bermain di balik kasus tersebut.

Telunjuk secara khusus mengarah kepada Muhammad bin Salman (MBS), sang putra mahkota yang mulai dilirik dunia internasional karena gebrakan reformasi Islam moderat yang diusungnya. Tetapi, di waktu bersamaan, sikap kejam terhadap para pengkritiknya (dikabarkan sudah menggantung 48 orang dalam empat bulan hingga April 2018) pun semakin terbuka ke publik.

Khashoggi adalah tokoh yang sangat vokal mengkritik sang putra mahkota. Amerika, Inggris, Prancis, dan Jerman adalah negara-negara yang secara terbuka menekan Arab Saudi untuk memberikan laporan terbuka kepada publik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikenal dekat dengan rezim yang berkuasa di Riyadh juga berjanji memberikan hukuman berat. Itu jika Khashoggi terbukti dibunuh komplotan dan utusan Arab Saudi.

Menghadapi tekanan seperti itu, MBS tidak tinggal diam. Senjata andalan yang dia pakai adalah mengancam akan menaikkan harga minyak terhadap konsumen utama mereka: Amerika.

Sampai sekarang Arab Saudi tetap kukuh dengan pendiriannya bahwa pihaknya tidak mempunyai sangkut paut di balik lenyapnya Khashoggi. Sementara itu, Turki, sebagai negara tempat peristiwa tersebut terjadi, sudah jelas tidak ingin terkena getah yang dilempar otoritas Arab Saudi.

Sampai di sini, kasus hilangnya Khashoggi menjadi pertaruhan, baik bagi Turki maupun Arab Saudi. Tapi, tekanan Turki itu, jika ditelisik lebih mendalam, menghadirkan ambigu.

Di satu sisi, Turki pernah menawarkan diri untuk berkolaborasi dalam proses investigasi dengan polisi Arab Saudi. Tapi, di sisi lain, dengan tetap berdasar kepada fakta bahwa Khashoggi hilang di dalam gedung konsulat, Turki seolah memegang kartu truf yang kapan saja bisa dimainkan. Dengan tujuan untuk menunjukkan kapasitas mereka di panggung internasional. Khususnya kepada otoritas pemerintah Arab Saudi.

Ada suara minor menengarai bahwa tawaran Turki untuk berkolaborasi dalam investigasi adalah sebentuk kompromi. Tetapi, bagi saya, langkah Turki sangat cerdik demi melacak jejak-jejak kasus secara lebih mendalam.

Jika itu terjadi, otoritas Turki semakin bebas melancarkan manuver. Yang tujuan utamanya adalah mengamankan kepentingan nasional mereka.

Kasus Khashoggi itu bisa menjadi bola liar. Sekaligus ladang subur bagi Turki untuk bisa memainkan peran secara signifikan. Namun, Turki tetap harus berhati-hati terhadap adanya potensi konspirasi yang bisa menjegal dan membahayakan pemerintahan mereka.

Sebab, Trump kembali berkicau di akun Twitter pribadi dengan mengakui ketidakterlibatan MBS dalam kasus tersebut. Padahal, seperti kita ketahui, investigasi belum menghasilkan apa-apa.

Jika Trump akhirnya sejalan dengan MBS, tekanan akan berbalik mengarah ke Turki. Tetapi, sebagai negara yang berpengalaman dalam permainan seperti itu, Turki tidak akan membiarkan bola liar tersebut membakar diri mereka.

Turki paham betapa dekatnya Trump dengan MBS. Dan, di waktu bersamaan mereka tahu bahwa Khashoggi, musuh utama MBS, berada di bawah "perlindungan" Turki, selain juga oleh Inggris dan Amerika sendiri. Sehingga intrik dan kans untuk menjatuhkan Turki sangat kuat.

Bagi Turki, hilangnya Khashoggi sebenarnya bukan kasus rumit. Sebab, mereka sudah punya bukti rekaman video detik-detik hilangnya Khashoggi.

Turki dalam perkiraan saya masih menunggu seberapa jauh MBS memainkan peran dalam drama ini. Baru setelah itu sikap mereka kepada Arab Saudi akan semakin benderang. 

*) Dosen, alumnus pascasarjana sosiologi Universitas Selcuk, Turki

(*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up