
Seorang anggota militer Rusia terlihat di kendaraan tempur infanteri BMP-3 selama latihan yang diadakan oleh angkatan bersenjata Distrik Militer Selatan di jajaran Kadamovsky di wilayah Rostov, Rusia Kamis (3/2/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Sergey Pivovarov/
JawaPos.com–Perang Dunia III dikhawatirkan banyak orang terjadi karena ketegangan antara Rusia dan Ukraina.
Namun menurut analisis Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (HI FISIP Unair), hal itu tidak akan terjadi. Bahkan, ketegangan Rusia dan Ukraina tidak akan berdampak pada Indonesia.
Dosen Departemen HI FISIP Unair I Gede Wahyu Wicaksana berpendapat, Perang Dunia III yang dikhawatirkan terjadi sebagai dampak dari ketegangan antara dua negara itu tidak akan terjadi. Masyarakat tidak perlu khawatir.
”Rusia dan Ukraina akan bisa menyelesaikan permasalahan mereka dengan diplomasi. Kedua negara itu memiliki tradisi diplomatiknya sendiri, mengingat keduanya masih berada dalam bangsa yang sama yakni Bangsa Slavik,” ucap I Gede Wahyu Wicaksana ketika dihubungi pada Rabu (16/2).
Menurut Ahli Kebijakan Luar Negeri itu, konflik antarnegara tersebut tergolong kecil. Desakan warga supaya Indonesia turun tangan juga dirasa tak perlu. Sebab tidak ada dampak bagi Indonesia.
”Masyarakat internasional, khususnya Indonesia tidak perlu khawatir dengan konflik tersebut. Karena seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, kedua negara itu akan menyelesaikan dengan diplomasi mereka,” ujar I Gede Wahyu Wicaksana.
Ditanya apakah perlu Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) turun tangan, Wahyu menggeleng. ”PBB juga tidak perlu ikut andil dalam penyelesaian konflik keduanya,” imbuh dia.
Wahyu menjelaskan, setidaknya terdapat tiga persoalan yang menyebabkan terjadinya konflik antara Rusia dan Ukraina. Persoalan pertama berkaitan dengan konflik wilayah atau teritorial.
”Ketika Uni Soviet masih eksis dulu, Rusia mengambil sebagian wilayah dari Ukraina. Ketika Uni Soviet runtuh, Ukraina mengambil lagi wilayahnya dari Rusia,” papar I Gede Wahyu Wicaksana.
Kemudian saat ini, Presiden Rusia Vladimir Putin, ingin mengambil kembali,” jelas dia.
Wahyu juga menyebut, Rusia dan Ukraina terlibat dalam persoalan persaingan. Rusia ingin berkuasa penuh di kawasan Eropa Timur. Untuk itu, Rusia harus menyingkirkan Ukraina.
”Karena Ukraina adalah negara terbesar kedua setelah Rusia, di kawasan bekas Uni Soviet. Beberapa harta peninggalan Uni Soviet ada di Ukraina. Rusia ingin menguasainya. Dengan begitu Rusia dapat berkuasa penuh tanpa terhalang Ukraina,” papar Wahyu.
Kondisi ekonomi juga menjadi salah satu penyebab konflik. Wahyu melihat merosotnya ekonomi Rusia membuat hubungan kedua negara memanas.
”Putin mencoba mengalihkan isu dengan membuat konflik tersebut,” terang Wahyu.
Konflik antara dua negara itu bukan hal baru. Sebab konflik etnis seringkali terjadi sejak lama.
”Pada abad ke-15 keduanya sudah berkonflik secara etnis. Namun dalam sejarah modern, mereka baru berkonflik secara terang-terangan pada 1989 atau ketika runtuhnya Uni Soviet,” papar I Gede Wahyu Wicaksana.

Prediksi Skor Brasil vs Jepang di Piala Dunia 2026: Kans Selecao Lolos 16 Besar Lewat Adu Penalti
Prediksi Skor Pantai Gading vs Norwegia di Piala Dunia 2026: Misi Erling Haaland Pulangkan Wakil Afrika
Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris PT Krakatau Posco, Netizen: Muak Sekali
Sejarah! Indonesia Juara AVC Men's Cup 2026 Hancurkan Korea Selatan 3-0
Prediksi Skor Jerman vs Paraguay di Piala Dunia 2026: Der Panzer Bisa Amankan Tiket 16 Besar dalam 90 Menit
Prediksi Skor Meksiko vs Ekuador di 32 Besar Piala Dunia 2026: Panggung Pembuktian Tuan Rumah!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Brasil vs Jepang di 32 Besar Piala Dunia 2026: Marquinhos Akui Samurai Biru Sedang Percaya Diri
Prediksi Susunan Pemain Timnas Norwegia vs Pantai Gading di 32 Besar Piala Dunia 2026: Sudah Lakukan Rotasi, Martin Odegaard Siap Menan
Pakai Tas Mewah, Tiga Pengasuh Anak-anak Raffi Ahmad-Nagita Slavina Sedang Asik Liburan Jadi Sorotan
Prediksi Skor Belanda vs Maroko di Piala Dunia 2026: Oranje Dijagokan Menang Tipis Kontra Singa Atlas
