
HATI-HATI: Seorang petugas kesehatan memberikan vaksin Covid-19 ke tangan seorang wanita di gimnasium Sekolah Menengah Corona di kota Riverside County, Corona, California, pada 15 Januari 2021. (FREDERIC J. BROWN/AFP)
Vaksin Covid-19 sudah tersedia. Sayangnya, tak semua negara mampu membelinya. Mereka yang punya dana rela terbang ke negara lain demi mendapatkannya.
---
’’KAMI bangga telah menciptakan istilah wisata vaksin.’’ Komentar itu dilontarkan Nimesh Shah. Dia adalah spesialis pengembangan bisnis di Gem Tours & Travels. Akhir tahun lalu, perusahaan tempatnya bekerja tersebut menawarkan paket wisata vaksin selama empat hari. Namun, khusus untuk pelanggan VVIP.
Memang bukan perkara mudah daftar di paket wisata tersebut. Sebab, syarat utamanya adalah memiliki visa AS yang masih valid. Selain itu, tentu saja pengunjung harus membayar biayanya. Yakni, INR 174.999 atau setara dengan Rp 33,67 juta. Agen perjalanan asal India itu menjanjikan pelanggannya untuk diterbangkan dari Mumbai ke New York City guna mendapatkan vaksin di Amerika Serikat.
Akhir tahun lalu, AS dan negara-negara Eropa memang mendapat suplai vaksin Covid-19 yang sudah lolos uji klinis tahap III. Di pihak lain, India belum memperoleh vaksin. Mereka baru melakukan vaksinasi awal tahun ini dengan vaksin buatan dalam negeri, Covaxin, dan sebagian kecil lainnya dari AstraZeneca.
Agen perjalanan lainnya tak butuh waktu lama untuk mengikuti jejak Gem Tours & Travels. AS, Inggris, dan Rusia menjadi jujukan utama wisata vaksin tersebut. Di tiga negara itu, vaksin Covid-19 memang digratiskan untuk penduduknya saja, bukan warga negara lain.
Peluang terbesar wisata vaksin ini ada di AS. Sebab, setiap negara bagian memiliki kebijakan. Artinya, ada 50 kebijakan yang berbeda di setiap wilayah. Misalnya saja, di Wisconsin, peternak cerpelai tengah dipertimbangkan untuk menjadi prioritas vaksinasi. Sebab, belakangan banyak cerpelai yang tertular Covid-19 dan ditakutkan menular ke para peternak. Di New Jersey, perokok masuk dalam daftar prioritas. Di Colorado, jurnalis setara dengan pekerja medis. Mereka masuk dalam kategori pekerja garda depan.
Namun, dari semua negara bagian, Florida yang peluangnya paling besar menjadi tujuan wisata vaksin. Sebab, kebijakan mereka lebih longgar. Siapa pun yang berusia 65 tahun ke atas bisa divaksin tanpa harus menunjukkan identitas maupun konfirmasi tempat tinggalnya.
Dampaknya, banyak penduduk lansia dari negara bagian lain yang datang ke Florida. Sebab, di tempat asalnya, giliran mereka masih lama. NBC News mengungkapkan bahwa penduduk dari negara lain seperti Kanada, Brasil, dan Venezuela juga berdatangan. Ana Rosenfeld adalah salah satunya. Pengacara 66 tahun asal Argentina itu tengah mengunjungi keluarganya di Miami bulan lalu. Begitu tahu syarat vaksinasi di Florida, dia langsung ikut. Dia divaksin di dekat Tampa.
’’Saya ingin divaksin. Jika saja ada peluang saya bisa melakukannya di Argentina, saya pasti sudah melakukannya di sana,’’ kata Rosenfeld.
Mantan CEO Time Warner Richard Parsons juga memilih divaksin di Florida. Dia terbang dari rumahnya di New York ke Florida khusus untuk vaksin saja. ’’Anda hanya perlu membuat janji secara online dan akan mendapatkannya,’’ ujar pria 72 tahun tersebut seperti dikutip CNBC. Semuanya kian mudah karena Florida juga melayani vaksinasi via drive-thru.
Pennsylvania juga selonggar Florida. Akhir Januari lalu, Gubernur Pennsylvania Tom Wolf menegaskan bahwa pihaknya tak melarang jika ada penduduk negara bagian lain yang divaksin di wilayah mereka. Imbasnya tentu saja antrean langsung melonjak tajam.
’’Kami melayani 200 orang setiap beberapa hari dan ada 20 ribu orang yang berebut memesan,’’ terang Marc Ost, staf di Eric’s RX Farmasi yang memberikan layanan vaksinasi.
Di sisi lain, tak semua setuju dengan praktik wisata vaksin ini. Memang praktik itu tak benar-benar ilegal, tetapi secara etis tak baik. Sebab, para ”pelancong” yang memburu vaksin ini otomatis merebut antrean orang lain. ’’Para turis vaksin ini menggunakan kekuatan mereka untuk menciptakan peluang bagi diri mereka sendiri,’’ tegas Dr Kyle Ferguson dari divisi etika medis di New York University Grossman School of Medicine seperti dikutip The Guardian.
Faktor kesehatan seharusnya juga menjadi pertimbangan bagi para turis tersebut. Rata-rata, vaksin Covid-19 membutuhkan dua dosis yang harus disuntikkan dengan rentang waktu tertentu, biasanya sekitar 3–4 pekan. Tak ada yang bisa menjamin para turis itu bisa kembali ke lokasi vaksinasi untuk mendapatkan suntikan kedua. Sebab, jika lintas negara, jarak yang ditempuh cukup jauh.
’’Jika terjadi sesuatu pada mereka, siapa yang bertanggung jawab?’’ tegas Dr Jay Wolfson, profesor kesehatan publik di University of South Florida.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
