Logo Perplexity AI terpampang dalam ilustrasi, menggambarkan eskalasi perseteruan teknologi antara Amazon dan startup tersebut dalam perebutan pengaruh atas masa depan agen AI dan belanja otomatis
JawaPos.com - Pertarungan antara Amazon dan Perplexity AI kini memasuki fase paling intens, menandai perebutan dominasi atas agen kecerdasan buatan (AI) yang diprediksi akan menjadi wajah baru otomatisasi digital global.
Konflik ini tidak lagi semata-mata persoalan bisnis, melainkan perebutan pengaruh strategis dalam menentukan bagaimana teknologi otonom akan mengatur pengalaman belanja dan perilaku daring masyarakat dunia.
Sengketa tersebut mencuat setelah Amazon menggugat Perplexity atas fitur belanja otomatis dalam peramban Comet yang memungkinkan agen AI melakukan pemesanan tanpa interaksi langsung pengguna. Menurut Amazon, agen tersebut menyusup ke akun pelanggan dan menyamarkan aktivitas otomatis sebagai perilaku manusia, sehingga dianggap melanggar batas keamanan dan etika digital.
Melansir The Guardian, Rabu (19/11), Amazon menilai tindakan Perplexity sebagai upaya yang melemahkan keamanan platform. Dalam dokumen pengadilan, Amazon menegaskan bahwa Perplexity telah "secara sengaja mengatur perangkat lunak Comet AI agar tidak menandai aktivitas agen AI di laman Amazon Store sebagai aktivitas otomatis", dan karena itu, menurut Amazon, "pelanggaran ini harus dihentikan."
Selanjutnya, Amazon menilai praktik tersebut bukan hanya melanggar kebijakan platform, tetapi juga merusak pengalaman belanja yang mengandalkan personalisasi dan perlindungan data pengguna. Amazon berpendapat bahwa agen AI yang beroperasi secara terselubung berpotensi membuka celah manipulasi, terlebih studi simulasi sebelumnya menunjukkan kerentanan agen otomatis dalam proses belanja.
Perplexity AI membantah tuduhan tersebut. Mereka menegaskan bahwa seluruh kredensial pelanggan disimpan secara lokal di perangkat pengguna, bukan di server Perplexity, sehingga aktivitas agen sepenuhnya dijalankan berdasarkan perintah pengguna.
Perplexity juga menyebut langkah Amazon sebagai bentuk intimidasi pasar. Dalam pernyataan perusahaan, mereka menegaskan bahwa "tindakan semacam ini mencerminkan cara korporasi besar menggunakan tekanan hukum untuk menghambat inovasi."
Lebih jauh, sengketa ini memperdalam diskusi global mengenai bagaimana agen AI seharusnya diatur, termasuk apakah agen digital wajib mengidentifikasi diri dan bagaimana platform raksasa boleh mengendalikan interaksinya. Amazon tetap bersikeras bahwa setiap aplikasi pihak ketiga yang melakukan pembelian otomatis wajib bersifat transparan dan patuh terhadap kebijakan platform.
Di sisi lain, Amazon sendiri tengah mengembangkan agen otomatis seperti fitur "Belikan untuk Saya" dan asisten AI bernama Rufus. Kondisi ini mendorong CEO Perplexity, Aravind Srinivas, menyampaikan kritik bahwa pendekatan Amazon dinilai tidak konsisten. Dia menegaskan bahwa "tidak adil apabila Amazon membatasi pengguna hanya pada asisten yang mereka buat sendiri."
Konflik ini pun memberi gambaran awal tentang bagaimana ekosistem agen AI akan dibentuk pada masa mendatang. Apabila Amazon menang, kontrol terhadap agen AI kemungkinan akan dipusatkan di tangan platform besar. Namun apabila Perplexity menang, jalan bagi agen AI lintas platform yang lebih independen berpotensi terbuka lebar.
Akhirnya, bagi konsumen, sengketa ini menyangkut lebih dari sekadar dominasi teknologi. Intinya adalah pertanyaan fundamental: apakah masyarakat berhak menggunakan agen digital yang bekerja sepenuhnya atas pilihan mereka sendiri?
Pertarungan Amazon dan Perplexity ini menandai babak awal dari pergeseran kekuasaan global di era otomatisasi digital, sebuah dinamika strategis yang akan menentukan arah masa depan belanja otomatis dan interaksi daring di seluruh dunia.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
