
Ghazala Hashmi berbicara di atas panggung usai memenangkan pemilihan wakil gubernur Virginia pada hari Selasa (4/11/2025) di Richmond, Virginia, Amerika Serikat. (Stephanie Scarbrough/AP)
JawaPos.com - Malam pemilihan yang bersejarah di Amerika Serikat (AS) ternyata bukan hanya milik Zohran Mamdani, wali kota Muslim pertama New York. Tetapi juga milik Ghazala Hashmi, perempuan muslim pertama yang memenangkan jabatan tingkat negara bagian di Virginia.
Keduanya, sama-sama dari Partai Demokrat, mewakili babak baru dalam politik Amerika, di mana warga muslim dan keturunan Asia Selatan kini menembus batas-batas lama representasi politik yang dulu sulit dicapai.
“Kemenangan ini mungkin terjadi karena luas dan dalamnya kesempatan yang tersedia di negeri ini,” kata Hashmi dalam pidato kemenangannya di Virginia.
Zohran Mamdani, 34 tahun, mencatatkan sejarah dengan menumbangkan mantan gubernur Andrew Cuomo dalam pemilihan wali kota New York.
Ia menjadi Muslim pertama, keturunan Asia Selatan pertama, dan orang kelahiran Afrika pertama yang memimpin kota terbesar di Amerika Serikat.
Sementara itu, Ghazala Hashmi, 61 tahun, juga mencatatkan tonggak sejarahnya sendiri. Lahir di Hyderabad, India, ia datang ke AS sebagai anak imigran dan tumbuh besar di Georgia.
Sebelum terjun ke politik, Hashmi adalah profesor universitas di Virginia. Karir politiknya dimulai pada 2019 ketika ia merebut kursi senat negara bagian dari Partai Republik.
Kemudian ia berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk jabatan Letnan Gubernur Virginia pada Juni lalu.
Kini, ia resmi menjadi perempuan Muslim pertama dan warga India-Amerika pertama yang menjabat posisi tinggi di pemerintahan Virginia.
Kemenangan keduanya datang di tengah meningkatnya sentimen Islamofobia yang masih terasa kuat di Amerika, terutama sejak masa pemerintahan mantan Presiden Donald Trump.
Kampanye Mamdani di New York menjadi salah satu yang paling keras diserang dengan isu agama dan imigrasi.
Ia dituduh 'terlalu kiri' dan 'tidak cukup Amerika' oleh lawan-lawan politiknya dari Partai Republik. Namun hasil pemilu membuktikan sebaliknya.
Malam pemilihan itu menjadi tamparan keras bagi politik kebencian, dan juga sinyal kuat bahwa pemilih Amerika mulai beralih pada pesan inklusif dan progresif.
“Pemilu ini adalah penolakan terhadap Islamofobia dan politik ketakutan,” tulis Al Jazeera dalam laporannya, menggambarkan kemenangan Partai Demokrat di berbagai negara bagian sebagai bentuk 'resounding rebuke' terhadap Trump dan Partai Republik.
Selain kemenangan Mamdani dan Hashmi, Partai Demokrat juga mencatat hasil positif di sejumlah wilayah lain.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
