Didgeridoo, alat musik tiup kuno dari suku Aborigin Australia
JawaPos.com - Didgeridoo, alat musik tiup kuno dari suku Aborigin Australia, bukan sekadar instrumen. Ia adalah jembatan spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan roh leluhur.
Dalam budaya Aborigin, suara didgeridoo dipercaya mampu meniru elemen alam seperti angin, air, dan suara binatang, menciptakan resonansi yang mendalam dalam ritual adat dan tarian suci.
Instrumen ini berasal dari wilayah Arnhem Land di Northern Territory dan dikenal dengan nama lokal seperti yidaki atau mago, tergantung suku yang memainkannya.
Kayu eukaliptus yang dilubangi secara alami oleh rayap menjadi bahan utama, dipilih secara hati-hati untuk menghasilkan nada yang khas.
"Panjang, diameter, dan tekstur kayu memengaruhi nada dan pitch. Tidak ada dua didgeridoo yang menghasilkan suara yang sama," ujar Josh Whiteland, pemilik Koomal Dreaming Tours di Australia Barat.
Didgeridoo biasanya dimainkan dalam upacara Corroboree, sebuah pertunjukan budaya yang melibatkan tarian, nyanyian, dan cerita mitologis. Tarian ini dilakukan secara kolektif, dipimpin oleh tetua adat, dan diiringi oleh nyanyian kuno serta alat musik seperti clapsticks dan didgeridoo.
Setiap gerakan tarian mencerminkan kisah penciptaan dan hubungan spiritual antara manusia dan makhluk roh.
"Musik tradisional didgeridoo sangat terkait dengan spiritualitas dan tanah. Suaranya meniru alam dan penuh makna budaya," kata Josh dalam wawancaranya.
Meski didgeridoo kini digunakan dalam berbagai genre musik modern, nilai spiritualnya tetap dijaga. Dalam beberapa komunitas Aborigin, hanya laki-laki yang diperbolehkan memainkannya.
"Tradisi ini mengajarkan ketahanan dan kapasitas diri bagi laki-laki dan anak laki-laki," tambah Josh. Ia juga menekankan pentingnya menghormati norma budaya, termasuk larangan memotret perempuan yang diberi izin memainkan alat ini.
Kehadiran didgeridoo dan tarian roh dalam budaya Aborigin bukan sekadar warisan masa lalu. Ia adalah identitas yang terus hidup, mengingatkan dunia akan kedalaman spiritual dan filosofi masyarakat asli Australia.
Dari panggung adat hingga festival internasional seperti Garma Festival, suara didgeridoo terus bergema sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan leluhur.
Baca Juga: House of African Worlds: Ruang Baru untuk Merayakan Budaya Afrika di Paris

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
