Kondisi di Gaza semakin memprihatinkan. Sekitar 90 persen penduduk telah tergusur. (dok United Nations)
JawaPos.com - Dua tahun sudah perang di Jalur Gaza berlangsung tanpa jeda. Sejak Oktober 2023, wilayah sempit yang dihuni lebih dari dua juta orang itu telah berubah menjadi ladang kehancuran.
Melansir Al-Jazeera, data terbaru menunjukkan sedikitnya 67.160 warga Palestina tewas, sementara 169.679 lainnya luka-luka akibat serangan udara dan operasi darat Israel. Ribuan orang lainnya masih belum ditemukan, diduga tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur.
Angka korban ini menandai salah satu tragedi kemanusiaan paling mematikan dalam sejarah modern Timur Tengah. Setiap pekan, laporan korban baru terus berdatangan dari rumah sakit yang kewalahan dan kamp pengungsian yang semakin padat.
Bahkan lembaga-lembaga kemanusiaan internasional menyebut Gaza kini berada di ambang 'kehancuran total', bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan moral. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, serangan udara Israel kembali meningkat.
Sedikitnya 104 orang tewas sejak Jumat lalu, hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyerukan penghentian operasi militer dan mendorong upaya damai baru. Namun, di lapangan, suara bom masih lebih nyaring daripada suara diplomasi.
Sementara itu, perundingan antara pejabat Israel dan Hamas yang difasilitasi Mesir belum menghasilkan terobosan berarti. Rencana damai yang diusulkan Washington dinilai terlalu lemah untuk menghentikan spiral kekerasan yang telah menelan puluhan ribu nyawa.
Para pengamat menilai, selama kedua pihak masih saling memandang lawan sebagai ancaman eksistensial, perundingan apapun hanya akan menjadi formalitas politik tanpa hasil nyata.
Kehidupan di Gaza kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup sehari-hari. Rumah sakit kekurangan bahan bakar, listrik hanya menyala beberapa jam sehari, dan air bersih menjadi barang mewah.
Badan-badan bantuan PBB memperingatkan bahwa lebih dari 80 persen penduduk Gaza kini bergantung sepenuhnya pada bantuan kemanusiaan yang sulit masuk akibat blokade.
Di sisi lain, Israel masih mengaitkan operasi militernya dengan upaya menumpas Hamas, kelompok yang dituding bertanggung jawab atas serangan 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.139 warga Israel dan menyandera sekitar 200 orang.
Namun, skala serangan balasan Israel telah memicu kecaman global karena dianggap tidak proporsional dan melanggar prinsip hukum humaniter internasional.
Bagi masyarakat Gaza, statistik kematian kini bukan lagi sekadar angka. Di setiap rumah, ada cerita kehilangan. Banyak keluarga yang kehilangan tiga generasi sekaligus, kakek, orang tua, dan anak-anak, dalam satu serangan.
Pemakaman massal juga menjadi pemandangan sehari-hari, sementara anak-anak tumbuh besar di bawah bayang-bayang pesawat tempur dan reruntuhan sekolah mereka.
Komunitas internasional terus menyerukan gencatan senjata permanen, namun langkah konkret masih jauh dari harapan. Dewan Keamanan PBB berkali-kali gagal mencapai kesepakatan karena perbedaan kepentingan di antara negara anggota tetap.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
