Presiden AS Donald Trump di Sidang Umum PBB mendesak dunia membeli lebih banyak minyak dan gas produksi Amerika Serikat (Dok. The New York Times)
JawaPos.com - Pertemuan iklim di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu pekan ini menyoroti jurang yang kian lebar antara Amerika Serikat (AS) dan mayoritas negara lain.
Dari kekuatan besar seperti Tiongkok, Rusia, Jepang, dan Jerman, hingga negara kepulauan kecil, semuanya hadir menyampaikan komitmen baru untuk memangkas emisi gas rumah kaca. Kehadiran ini menunjukkan bahwa agenda transisi energi mendapat dukungan lintas kawasan, tanpa memandang ukuran atau kekuatan ekonomi.
Negara-negara berpenghasilan rendah seperti Chad dan Republik Afrika Tengah pun turut menyatakan komitmennya. Bahkan Venezuela, Suriah, dan Iran hadir mengambil bagian. Namun, Amerika Serikat justru memilih absen.
Dilansir dari The New York Times, Jumat (26/9/2025), absennya Washington menegaskan isolasi diplomatik yang semakin nyata. Presiden Donald Trump dalam pidatonya di Sidang Umum PBB sehari sebelumnya menyatakan penolakan tegas terhadap energi terbarukan.
"Jika Anda tidak segera meninggalkan tipu muslihat energi hijau ini, negara Anda akan gagal," ujarnya, seraya mendesak negara-negara Eropa dan Asia membeli lebih banyak minyak serta gas dari Amerika Serikat.
Seruan Guterres dan Davis: Energi Terbarukan sebagai Syarat Kemakmuran
Pandangan itu berlawanan dengan pesan kuat dari Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang membuka pertemuan dengan pernyataan, "Kita berada di awal dari sebuah era energi baru."
Dia juga menegaskan bahwa bahan bakar fosil merupakan "pertaruhan yang merugikan," menandai pergeseran paradigma global menuju energi bersih.
Bagi banyak negara, transisi energi justru dilihat sebagai syarat pertumbuhan. Perdana Menteri Bahama Philip Davis menegaskan, "Kita perlu membuat para pengambil keputusan di seluruh dunia memahami bahwa menggantikan bahan bakar fosil dengan energi terbarukan bukanlah pengorbanan bagi kemakmuran, melainkan prasyarat untuk kemakmuran masa depan."
Uni Eropa Melawan Arus AS
Meskipun ada kekhawatiran bahwa sikap keras Gedung Putih akan melemahkan semangat internasional, justru semakin banyak negara mempercepat langkah.
Komisioner Iklim Uni Eropa Wopke Hoekstra menyatakan, "Kami melakukan kebalikan dari yang dilakukan Amerika Serikat, dan hal itu menurut saya sangat mengkhawatirkan. Pemain geopolitik terbesar, ekonomi terbesar kedua, sekaligus penghasil emisi terbesar kedua, justru memilih keluar."
Langkah Besar dari Beijing
Langkah besar datang dari Beijing. Presiden Xi Jinping mengumumkan Tiongkok akan mengurangi emisi 7–10 persen pada 2035 dari level puncak yang diperkirakan tercapai tahun ini, serta meningkatkan porsi energi non-fosil menjadi lebih dari 30 persen.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
