Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 26 September 2025 | 00.45 WIB

Dancing Plague 1518, Ketika Ratusan Orang Menari Tanpa Henti hingga Tewas

Peristiwa tahun 1518 merupakan kasus wabah menari yang paling terdokumentasi dalam sejarah. (discover.hubpages.com) - Image

Peristiwa tahun 1518 merupakan kasus wabah menari yang paling terdokumentasi dalam sejarah. (discover.hubpages.com)

JawaPos.com - Fenomena misterius mengguncang Strasbourg, Prancis, pada Juli 1518. Seorang perempuan bernama Frau Troffea tiba-tiba menari tanpa henti di jalanan kota. Tarian itu bukan bagian dari perayaan, melainkan gerakan tak terkendali yang berlangsung berhari-hari.

Dalam waktu seminggu, lebih dari 30 orang ikut menari, dan jumlahnya terus bertambah hingga mencapai sekitar 400 orang. Mereka menari siang dan malam, bahkan hingga tubuh mereka kelelahan dan beberapa di antaranya meninggal dunia.

Pihak otoritas kota saat itu mengambil langkah yang mengejutkan. Mereka menyediakan musisi dan ruang dansa agar para korban bisa terus menari, dengan harapan tarian itu akan mereda dengan sendirinya.

Namun, keputusan tersebut justru memperparah situasi. Banyak korban yang akhirnya tewas karena kelelahan ekstrem, kelaparan, atau serangan jantung.

Dijelaskan dalam laporan Encyclopaedia Britannica, para pemimpin sipil dan agama percaya bahwa lebih banyak menari adalah solusi, sehingga mereka menyediakan gedung serikat, musisi, dan penari profesional untuk mendampingi para korban.

Fenomena ini dikenal sebagai Dancing Plague of 1518, dan menjadi salah satu kasus paling terdokumentasi dari wabah tarian yang pernah terjadi di Eropa.

Menurut sejarawan medis asal Amerika, John Waller, peristiwa ini kemungkinan besar merupakan bentuk gangguan psikogenik massal, yakni kondisi mental yang menyebar secara kolektif dalam masyarakat yang mengalami tekanan sosial dan ekonomi berat.

“Wabah ini bukan karena racun atau penyakit fisik, melainkan tekanan psikologis yang meledak dalam bentuk tarian tak terkendali,” ujar Waller dalam penelitiannya.

Teori lain menyebutkan bahwa para penari mungkin telah mengonsumsi roti yang terkontaminasi jamur ergot, yang dapat menyebabkan halusinasi dan kejang. Namun, teori ini belum sepenuhnya terbukti.

Dalam catatan sejarah, peristiwa ini berlangsung selama dua bulan dan berakhir secara misterius pada awal September 1518. Tidak ada penjelasan pasti mengapa wabah tersebut berhenti, sama seperti tidak ada kepastian mengapa ia bermula.

Melansir euppublishing.com, jurnal akademik yang diterbitkan oleh Edinburgh University Press juga menyoroti bagaimana masyarakat saat itu mengaitkan wabah dengan hukuman ilahi atau kerasukan setan.

Dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa “Para pengamat zaman itu memahami tarian sebagai bentuk penebusan dosa atau manifestasi dari murka Tuhan, bukan sebagai gejala medis”.

Dancing Plague menjadi simbol dari bagaimana tekanan sosial, ketakutan kolektif, dan kepercayaan spiritual dapat menciptakan fenomena luar biasa yang melampaui logika medis.

Hingga kini, peristiwa tersebut masih menjadi bahan studi lintas disiplin, dari sejarah, psikologi, hingga antropologi. Sebuah pengingat bahwa tubuh manusia bisa menjadi cermin dari gejolak batin masyarakatnya. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore