Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 September 2025 | 00.53 WIB

Profil Sushila Karki, Perdana Menteri Perempuan Pertama Nepal yang Muncul di Tengah Gejolak Politik

Perdana Menteri sementara Nepal, Sushila Karki. (Reuters) - Image

Perdana Menteri sementara Nepal, Sushila Karki. (Reuters)

JawaPos.com - Nepal memasuki babak sejarah baru dengan melantik Sushila Karki sebagai perdana menteri sementara pada Jumat (12/9).

Penunjukan ini datang setelah sepekan penuh gejolak, ketika demonstrasi besar-besaran memaksa mundurnya Sharma Oli dan mengakibatkan sedikitnya 51 korban jiwa.

Mengutip New York Times, Karki, 73 tahun, bukan sosok asing bagi publik Nepal. Ia adalah ketua Mahkamah Agung perempuan pertama yang dikenal berani menentang korupsi dan praktik politik kotor. 

Reputasinya dibangun dari keputusan-keputusan kontroversial yang pernah mengguncang elit politik, termasuk menentang penunjukan kepala kepolisian yang dianggap bermuatan politik.

Upaya pemakzulan terhadap dirinya pada saat itu gagal setelah mendapat tekanan dari masyarakat dan sorotan internasional.

Sebagai hakim, Karki pernah mewajibkan para koleganya menyerahkan catatan akademik untuk mencegah manipulasi usia pensiun.

Ia juga aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan menjadi panutan bagi generasi muda pengacara di Nepal.

“Sebagai seseorang yang selalu ingin melihat seorang pemimpin perempuan memimpin negara, ini sungguh menggembirakan,” kata Prashamsa Subedi, mahasiswa hukum 23 tahun yang turut mengorganisir protes.

Bagi banyak aktivis, penunjukan Karki bukan hanya simbol keterwakilan perempuan, melainkan juga harapan bahwa politik Nepal akan kembali pada jalur transparansi.

Menurut penasihat presiden Sunil Bahadur Thapa, Karki akan membentuk kabinet sementara sebelum membawa Nepal menuju pemilihan umum, yang kemungkinan berlangsung dalam enam hingga delapan bulan ke depan.

Sementara itu, Kathmandu mulai berangsur pulih. Militer berpatroli menjaga keamanan, dan warga bergotong-royong membersihkan puing-puing. 

Meski situasi relatif kondusif, tuntutan publik agar pemerintah baru menjawab persoalan korupsi dan ketidakadilan masih terus menggema.

Sebagaimana diketahui, kerusuhan di Nepal sepekan belakangan, yang memicu lengsernya Oli dipicu oleh kebijakan pembatasan media sosial yang dianggap mengekang kebebasan publik. 

Namun, akar kemarahan warga jauh lebih dalam. Korupsi pejabat, ketimpangan ekonomi, dan rasa frustrasi terhadap elite politik yang dinilai hanya menguntungkan diri sendiri.

Dipimpin generasi muda, terutama mahasiswa dan kelompok Generasi Z, protes kali ini menjadi yang terbesar sejak Nepal beralih menjadi republik demokratis pada 2008.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore