Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 13 Agustus 2025 | 01.07 WIB

Paus Orca yang Viral Jadi Bahan Hoaks Bunuh Pelatih, Ternyata Populasinya Terancam

Foto viral dengan narasi pelatih lumba-lumba bernama Jessica Radcliffe tewas diserang paus orca. (Facebook)

JawaPos.com-Baru-baru ini muncul unggahan viral di medsos yang menarasikan paus orca menyerang Jessica Radcliffe, pelatih lumba-lumba, hingga tewas. Ternyata, unggahan itu hanya hoaks yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI).

Binatang yang juga kerap disebut sebagai killer whale (paus pembunuh) itu adalah simbol kekuatan dan kebebasan lautan. Tubuh hitam-putihnya yang kontras, kecerdasannya yang menakjubkan, serta kemampuannya berburu dalam tim membuatnya dijuluki 'penguasa laut'.

Namun di balik citra gagah itu, orca tengah menghadapi ancaman serius yang menggerogoti masa depan mereka. Hal ini penting diketahui oleh masyarakat, terlebih saat ini pencarian topik mengenai paus orca sedang tinggi karena hoaks video AI yang menarasikan paus orca memangsa pelatihnya yang bernama Jessica Radcliffe.

Diolah dari berbagai sumber, dilaporkan kalau secara global, populasi orca diperkirakan mencapai 50.000 individu. Dari jumlah itu, sekitar 2.500 hidup di Samudra Pasifik Timur Laut. 

Meski angka tersebut terdengar besar, kenyataannya tidak semua populasi mamalia laut dengan nama latin Orcinua orca itu berada dalam kondisi aman. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah Southern Resident, kelompok yang kini hanya tersisa sekitar 75 ekor saja. 

Penurunan jumlah Southern Resident bukan terjadi dalam semalam. Selama bertahun-tahun, mereka menghadapi kombinasi ancaman mematikan: perburuan di masa lalu yang memangkas populasi, pencemaran laut yang meracuni tubuh mereka, hingga menurunnya jumlah mangsa utama seperti salmon Chinook akibat penangkapan berlebihan dan kerusakan habitat sungai. 

Bagi orca yang sangat bergantung pada salmon sebagai sumber energi utama, kelangkaan ini ibarat bencana kelaparan. M

Ancaman terhadap orca tidak berhenti di situ. Banyak dari mereka berisiko terjerat alat tangkap ikan, mengalami keracunan dari bahan kimia berbahaya seperti PCB, atau terpapar dampak tumpahan minyak yang menghancurkan ekosistem laut. 

Bahkan, kebisingan bawah laut dari kapal-kapal besar menjadi masalah serius. Suara mesin kapal dapat mengganggu komunikasi antar-anggota kelompok dan mengacaukan kemampuan berburu mereka yang mengandalkan ekolokasi.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri telah memberikan perlindungan hukum untuk semua populasi orca melalui Marine Mammal Protection Act (MMPA). 

Dua kelompok mendapat perhatian khusus: Southern Resident yang masuk daftar spesies terancam punah di bawah Endangered Species Act (ESA), serta AT1 Transient stock yang tercatat sebagai populasi menurun di bawah MMPA.

Upaya konservasi juga terus dilakukan, menetapkan habitat kritis yang tidak boleh diganggu, memulihkan populasi salmon untuk menjamin ketersediaan makanan, mengatur jalur dan kecepatan kapal untuk mengurangi kebisingan, serta mengedukasi publik tentang pentingnya melindungi orca. 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore