Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 19 Juli 2025 | 03.35 WIB

Siapakah Kaum Druze? Minoritas Tangguh di Tengah Konflik Suriah dan Serangan Israel

Ilustrasi Kaum Druze, kelompok minoritas yang muncul di tengah konflik Israel dan Suriah. (Britannica). - Image

Ilustrasi Kaum Druze, kelompok minoritas yang muncul di tengah konflik Israel dan Suriah. (Britannica).

JawaPos.com-Di tengah kekacauan Suriah yang belum berakhir, satu kelompok minoritas kembali menjadi sorotan dunia. Komunitas Druze.

Kekerasan sektarian yang pecah di Provinsi Suweida pada 13 Juli, bukan hanya menyoroti rapuhnya keamanan Suriah. Tapi juga menggambarkan betapa kompleks dan rentannya posisi kaum Druze dalam peta konflik.

Bentrokan yang dipicu penculikan seorang pedagang Druze itu memicu pertarungan sengit antara milisi Druze dan kelompok bersenjata Sunni Bedouin. Selang dua hari, Israel turun tangan, mengklaim ingin melindungi kaum Druze dari serangan kelompok pro pemerintah Suriah

Serangan udara Israel meluas ke Damaskus, menghantam markas militer Suriah dan gedung kementerian pertahanan.

Siapa Kaum Druze?

Druze adalah kelompok etno-religius berbahasa Arab yang menganut ajaran spiritual unik. Berakar dari Islam Syiah namun memiliki kepercayaan tersendiri. Keberadaan mereka tersebar di Suriah, Lebanon, Israel, dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Di Suriah, komunitas Druze mencakup sekitar tiga persen populasi atau sekitar setengah dari total satu juta penganut Druze di dunia. Mereka telah lama memainkan peran penting namun sensitif dalam dinamika politik Suriah.

Seringkali menjaga jarak dari kekuasaan pusat dan mengandalkan milisi lokal untuk menjaga wilayah mereka, khususnya di Suweida.

Sejak jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, kaum Druze di Suriah selatan semakin menentang kehadiran pasukan pemerintah baru di wilayah mereka. Beberapa menolak bergabung dengan tentara nasional dan memilih tetap berjuang di bawah komando milisi lokal.

Meski pemimpin baru Suriah Ahmed al-Sharaa, seorang mantan jihadist, berjanji melindungi semua minoritas, banyak warga Druze masih meragukan niat tersebut. 

Laporan tentang eksekusi singkat terhadap warga Druze oleh pasukan pemerintah hanya memperdalam jurang ketidakpercayaan itu. Mengutip Britannica, kepercayaan Druze berasal dari Mesir sebagai cabang dari
Isma'ilism.

Pada masa pemerintahan khalifah Fatimiyah keenam, al-Hakim bi-Amr Allah yang eksentrik (memerintah 996–1021), beberapa teolog Isma'ilism
mulai mengorganisir gerakan yang menyatakan al-Hakim sebagai tokoh ilahi. 

Meskipun gagasan tersebut mungkin didorong oleh al-Hakim sendiri, gagasan tersebut dikutuk sebagai bidaah oleh lembaga keagamaan Fatimiyah, yang menyatakan bahwa al-Hakim dan para pendahulunya diangkat secara ilahi tetapi bukan diri mereka sendiri yang ilahi.

Hubungan Kaum Druze dengan Israel

Di Israel, komunitas Druze dikenal sebagai loyalis negara, dengan banyak anggotanya yang ikut wajib militer. Sekitar 152.000 warga Druze tinggal di Israel dan Golan yang diduduki.

Israel kini berusaha memperluas pengaruh di kalangan minoritas Suriah, termasuk Druze, dengan dalih melindungi mereka dari kelompok ekstremis dan pasukan pro-pemerintah. 

Namun, mengutip BBC, beberapa pemimpin Druze di Suriah dan Lebanon menuduh Israel memperkeruh ketegangan sektarian demi kepentingan politiknya sendiri.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore